Masyarakat kurang perhatikan isu perubahan iklim akibat literasi rendah dan minim aksi
Masih minimnya aksi nyata dan rendahnya literasi masyarakat Indonesia menjadikan isu perubahan iklim tenggelam dalam diskusi sosisal.
Elshinta.com - Masih minimnya aksi nyata dan rendahnya literasi masyarakat Indonesia menjadikan isu perubahan iklim tenggelam dalam diskusi sosisal. Demikian dikatakan Urip Haryoko, Pelaksana tugas Deputi Klimatologi Badan Metereologi dan Geofisika dalam Webinar literasi dan aksi iklim generasi religius lintas agama dan tanggap bencana hidrometeorologi dampak La Nina 2021, Selasa (30/11).
Haryoko menjelaskan, di Indonesia salah satu wujud dari perubahan iklim adalah meningkatnya kejadian curah hujan esktrim sebagai pemicu banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah. Adapun dampak perubahan karakter dari bencana hidrometeorologi di Indonesia selama beberapa tahun terakhir baik dalam bentuk peningkatan itensistas maupun frekuensinya.
Menurut Haryoko, oleh beberapa sumber Indonesia dikelompokan sebagai salah satu negara yang diproyeksikan akan lebih dahulu mengalami dampak terburuk perubahan iklim dimasa depan. Namun demikian, hingga saat ini gaung dari perubahan iklim di Indonesia masih kurang dapat perhatian yang signifikan.
"Rumitnya isu perubahan iklim dan kurangnya penyampaian yang efektif serta rendahnya literasi masyarakat Indonesia menjadikan isu perubahan iklim tenggelam dalam diskusi sosisal yang diikuti dengan minimnya aksi nyata oleh masyarakat untuk menghadapi isu perubahan iklim," kata Haryoko seperti dilaporkan Reporter Elshinta, Remon Fauzi, Selasa (30/11).
Di kesempatan yang sama Kepala Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Majelis Ulama Indonesia, Hayu S Prabowo menyatakan masih kurang pedulinya masyarakat pekotaan terhadap perubahan iklim.
"Diperlukannya sikap untuk saling menjaga kondisi alam yang ada guna ekosistem yang lebih baik untuk kesimbangan alam maupun social kemasyarakatan," ujarnya.