PMT gelar nobar film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI
Elshinta.com, Di momentum Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Paser Mania Tegal (PMT) menggelar nonton bareng (nobar) film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI.
Elshinta.com - Di momentum Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Paser Mania Tegal (PMT) menggelar nonton bareng (nobar) film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Tujuan nobar tersebut sebagai upaya menyadarkan anggota PMT bahwa sejarah pengkhianatan PKI jangan sampai terulang kembali.
“Kita tidak boleh sampai melupakan sejarah. Kita nobar sambil mengenal bahwa bahwa hari ini adalah hari kelam bagi bangsa Indonesia dimana pengkhianatan Partai Komunis Indonesia, yang hal ini tidak boleh atau jangan sampai kita hilangkan dari pikiran kita dan selalu Kita waspadai. Apapun bentuk komunisme, apapun bentuk yang dilaksanakan oleh gerakan itu mencederai perjuangan bangsa Indonesia,” kata Ketua PMT, Muhamad Arif, mengenai tujuan dilaksanakan nobar film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI di Lapangan Fasilitas Umum Perumahan Sapphire Residence Tegal, Jl. Siklepuh Raya, Tegal, Jum’at (30/9) malam.
Dengan nobar film tersebut, Ayiep, panggilan akrab Muhammad Arif berharap anggota PMT dapat mengerti sejarah dan mewaspadai gerakan apapun yang bertujuan untuk mengganti dasar Negara, agar tidak terluang kembali di masa yang akan datang.
Disebutkan Ayiep, sejarah juga mencatat di Kota Tegal dan sekitarnya juga menjadi bukti terjadinya pemberontakan Kutil yang merupakan kejadian yang sangat menyakitkan bagi bangsa Indonesia. “Letkol Untung pun tertangkap di Kota Tegal oleh masyarakat dan diserahkan ke Sub Denpom PM Tegal. Itu merupakan sejarah panjang terjadinya gerakan tersebut,” ungkap Ayiep seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Hari Nurdiansyah, Sabtu (1/10).
Menurut Wandi (38), salah satu anggota PMT yang mengikuti nobar ini merasa senang kembali dapat nobar film tersebut. Sudah lama ia tidak nonton dan dengan menonton film tersebut dapat mengambil pelajaran berharga dari sejarah yang pernah terjadi di Indonesia.
“Sejarah masa lalu yang kelam, jangan sampai terulang kembali. Ini juga dapat memperkuat kecintaan kita kepada NKRI,” ungkap Wandi yang tinggal di Brebes.
Selain nobar, kegiatan lain yang dilaksanakan dalam kopi darat (kopdar) PMT tersebut yakni pembacaan yasin dan tahlil untuk dua orang anggota PMT yakni Almarhum Sugiarso dan Almarhum Sumaryo, yang telah meninggal dunia karena kecelakaan di Jalingkut, Sabtu (17/9) lalu.