Detik peringatan 18 tahun tsunami Aceh, sirene dibunyikan serentak selama satu menit
Elshinta.com, 26 Desember merupakan hari yang bersejarah bagi masyarakat Aceh, gempa bumi dan gelombang laut yang mahadahsyat telah meluluhlantakkan Kota Serambi Mekah.
Elshinta.com - 26 Desember merupakan hari yang bersejarah bagi masyarakat Aceh, gempa bumi dan gelombang laut yang mahadahsyat telah meluluhlantakkan Bumi Serambi Mekah.
Peringatan 18 tahun tsunami hari ini diawali dengan bunyi sirene meraung-raung tepat pukul 07.59 WIB yang dibunyikan serentak di 6 titik sirene yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar, yakni 4 unit di Banda Aceh, 2 unit di Aceh Besar.
Pantauan Kontributor Elshinta, Fitri Juliana, di lokasi sirine berbunyi kencang selama satu menit pada Senin (26/12) pagi. Suara sirene tersebut terdengar di hampir seluruh kawasan di Banda Aceh.
Suara sirene selama satu menit itu disebut untuk mengenang detik-detik tsunami dan merefleksikan bencana tersebut serta mengingatkan masyarakat akan tanda saat terjadi tsunami lagi.
Lokasi Early Warning Sistem (EWS) atau Sirene Tsunami yang dibunyikan yakni di Kantor Gubernur Aceh, Desa Lampulo, Desa Blang Oi dan Lhoknga Aceh Besar.
Puncak peringatan 18 tahun tsunami akan berlangsung di kuburan massal, Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Peringatan tahun ini mengusung tema 'Bangkit Lebih Kuat, Bangun Budaya Sadar Bencana'.
Peringatan 18 Tahun Tsunami Aceh Dipusatkan di Kuburan Massal.
Kepala Disbudpar Aceh Almuniza Kamal, mengatakan, lokasi peringatan tsunami kali ini sengaja dipilih di kuburan massal tempat 40 ribu korban dimakamkan.
Di sana, masyarakat dapat sekalian berziarah dan mengikuti rangkaian peringatan musibah yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam.
"Setiap peringatan tsunami, banyak sekali ditemui peziarah berbeda suku, agama dan budaya yang membaur di Kuburan Massal Tsunami Siron untuk mendoakan keluarga dan kerabatnya," kata Almuniza.
Dia berharap, momentum peringatan tsunami menjadi renungan bagi masyarakat Aceh sebagai media pembelajaran dan memperkuat keimanan kepada Allah SWT.
"Kita juga harus sadar terhadap fenomena alam dan mengajarkannya kepada generasi mendatang, karena mencegah bencana alam tentu tidak bisa, tapi mengurangi risikonya pasti bisa kita lakukan bersama-sama dengan semangat berkolaborasi," ucapnya.
Peringatan tsunami tersebut akan diisi dengan tausiah dan doa bersama yang dipimpin Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), Tgk H Muhammad Yusuf A Wahab. Sedangkan zikir dan selawat akan dipandu oleh Pimpinan Pesantren Darul Mujahiddin Lhokseumawe, Tgk Muslim At Thahiri.