Fokus, bekal utama milenial terjun ke industri digital

Elshinta.com, Potensi ekonomi digital Indonesia yang diperkirakan mencapai Rp2000 triliun pada 2025 tidak hanya melulu tentang e-commerce. Kaum milenial harus fokus bila ingin terjun ke industri digital.

By :  Widodo
Update: 2023-02-06 23:09 GMT
Visi Generasi Kini (ViGenK) Spesial dalam rangka menyambut 23 tahun Elshinta News & Talk dengan tema 'Prospek Ekonomi Digital untuk Milenial' pada Senin (6/2) tersebut berlangsung di Walking Drum Caffe Jalan Patiunus, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (ELSHINTA)
Indomie

Elshinta.com - Potensi ekonomi digital Indonesia yang diperkirakan mencapai Rp2000 triliun pada 2025 tidak hanya melulu tentang e-commerce. Kaum milenial harus fokus bila ingin terjun ke industri digital.

Ekonomi digital Indonesia tumbuh signifikan terutama di masa pandemi. Ekonomi digital Indonesia saat ini merupakan yang tertinggi di ASEAN dengan nilai US$70 miliar atau lebih dari Rp1000 triliun.

Nilai itu setara dengan 40% pangsa ekonomi digital ASEAN dan diperkirakan terus tumbuh hingga mencapai US$146 miliar atau setara dengan Rp2000 triliun pada 2025.

Untuk itu, kaum milenial atau mereka yang berusia produktif harus mampu meraih peluang agar bisa menjadi pelaku utama dalam ekonomi digital Indonesia yang terus tumbuh dan membesar.

Terlebih Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif mencapai lebih dari 191 juta orang dan sebagian besarnya merupakan Generasi Z.

Problemnya seperti apa kesiapan kaum milenial dalam menyongsong kemajuan ekonomi digital Indonesia?

Jawaban dari pertanyaan utama itulah yang ditawarkan oleh tiga narasumber yang hadir dalam program talkshow Visi Generasi Kini (ViGenK) Spesial.

Acara yang diselenggarakan dalam rangka menyambut 23 tahun Elshinta News & Talk dengan tema "Prospek Ekonomi Digital untuk Milenial", pada Senin (6/2) tersebut berlangsung di Walking Drum Caffe  Jalan Patiunus, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Elshinta Peduli

Salah satu pembicara yang hadir, Nurfajri Budi Nugroho yang merupakan CEO Diginusantara menyatakan bila pada saat ini dunia ekonomi digital sudah sangat kompleks sekali.

Dulu ekonomi digital hanya identik dengan internet. Kini, sudah ada artificial inteligent (AI), internet of things (IoT), block chain, big data analitycs, metaverse dan lain sebagainya.

"Bicara ekonomi digital bukan hanya teknologi, karena teknologi hanyalah enabler. Tetapi yang terpenting adalah aset intangible. Dalam hal ini, peningkatan kecerdasan dan literasi digital kaum milenial," ujar Nurfajri.

Nur juga menambahkan, bila Pemerintah sudah melakukan inisiatif dalam bentuk pembuatan road map untuk industri 5.0.

Tetapi, masyarakat harus memanfaatkannya dengan cerdas.

"Dengan demikian kita tidak memanfaatkan ekonomi digital hanya melulu sebagai pelaku e-commerce," tambah Nurfajri.

Untuk itu, ia berharap Pemerintah tidak hanya bersikap sebagai regulator, tetapi juga fasilitator bagi pengembangan SDM milenial.

Masih di acara yang sama, Chieft Product Officer (CPO) MilenialFest Adnan Mubarak yang juga hadir sebagai salah satu narasumber menyatakan, bila perkembangan ekonomi digital yang dikembangkan milenila sangat bergantung dari infrastruktur.

Terutama jaringan untuk mengakses internet. Adnan membandingkan bila milenial dari daerah dengan infrastuktur digital yang baik seperti pulau Jawa lebih baik dari segi kualitas dan kuantitas ketimbang Kalimantan, Nusa Tenggara dan Papua saat terjun ke industri digital.

Penekanan Adnan pada infrastuktur menjadi sangat relevan, karena ia melihat masih ada 23 juta penduduk Indonesia yang belum bisa mengakses internet.

Dan itulah yang menjadi tantangan ke depan. "Pemerintah sudah melakukan banyak fasilitasi, dengan beragam program. Tetapi yang harus diperluas adalah segmennya. Karena kalau nanti bisa dikembangkan dan merata maka yang beruntung adalah enterpreuner," ucap Adnan.  

Adnan berharap ke depan infrastruktur digital semakin bagus dan merata sehingga kelompok milenial juga semakin dimudahkan dalam berwirausaha di dunia ekonomi digital.

Terjun ke industri digital, milenial harus fokus

Beragam tantangan dan permasalahan yang harus dihadapi kaum milenial bila ingin terjun ke industri digital memang harus dihadapi untuk dipecahkan.

Terlebih, Pemerintah telah memperkirakan dibutuhkan talenta digital setidaknya sebanyak 9 juta orang.

Untuk itu, Direktur Manajemen Industri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Syaifullah, SE., M.Ec., PhD yang juga hadir dalam diskusi menyarankan agar kaum milenial atau kaum muda untuk fokus bila ingin terjun di dunia digital.

“Silakan pilih dunia apa yang ingin digeluti, coding, big data analisys, main di konten, atau terjun ke digital creativity, yang sekarang ini lagi happening di media sosial. Di Youtube, Tiktok, Podcast, dan lain sebagainya,” urai Syaifullah.  

Syafullah menambahkan bila saat ini banyak anak muda yang menjadi kaya raya karena konten. Untuk itu, agar memiliki bekal di dunia digital creativity, ia mengimbau agar anak muda atau kaum milenial membekali dirinya dengan mulai belajar public speaking, story telling dan membangun networking.

Dalam acara yang dipandu penyiar Beri Hamzah, para peserta yang hadir nampak antusias dalam mengikuti talkshow.

Hal tersebut terlihat dari banyaknya para peserta yang aktif bertanya. Di antara para penanya adalah Azrul, pebisnis pemula dari kelompok milenial.

Ia bertanya bagaimana mendapatkan informasi mengenai perkembangan digital dan prospek investasi di bidang usaha milenial.

Sementara, peserta lainnya, Natali Fasya menanyakan seberapa penting relasi dalam membangun bisnis dan relasi seperti apa yang diperlukan.

Antusiasme peserta yang tinggi, seperti ditunjukkan Azrul dan Natali membuat para narasumber menjadi bergairah untuk menjawab sehingga talkshow yang sedianya berlangsung selama satu jam diperpanjang durasinya hingga menjadi lebih dari satu setengah jam.

(Ahs)

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News