'Thudong' 32 Bhiksu Buddha dari Thailand ke Borobudur telah melintasi Semarang

Elshinta.com, Ritual jalan kaki (thudong) lintas negara para bhiksu atau bhante Buddha dari Thailand menuju Candi Borobudur telah melintasi Kota Semarang dan beristirahat di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (29/5).

Update: 2023-05-29 23:55 GMT
Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Elshinta.com - Ritual jalan kaki (thudong) lintas negara para bhiksu atau bhante Buddha dari Thailand menuju Candi Borobudur telah melintasi Kota Semarang dan beristirahat di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (29/5). Para banthe itu terdiri dari 27 dari Thailand, empat dari Malaysia, dan satu dari Indonesia.

Mereka mengawali thudong dari Nakhon Si Thammarat, Thailand sejak Kamis (23/3/2023). Kemudian berjalan kaki melewati empat negara, yaitu Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia, dengan jarak sekitar 2.600 kilometer. Mereka tiba di Batam pada 8 Mei lalu. Rencananya, para bhiksu akan tiba di Candi Borobudur, Jawa Tengah pada Rabu (31/5/2023). Mereka akan ikut dalam upacara Hari Raya Waisak 2023 pada Minggu (4/6/2023).

Mereka tiba di Semarang pada Minggu (28/5) sore. Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Jawa Tengah Tanto Harsono menjelaskan, 32 bhiksu thudong itu masuk Semarang dari kawasan Tugu atau perbatasan dengan Kabupaten Kendal. Mereka menuju Vihara Adi Dharma untuk melakukan upacara atau sembahyang sebelum beristirahat.

Di Vihara Adi Dharma, umat Buddha juga memadati vihara itu menyambut kedatangan para bhiksu. Kemudian pada Senin pagi mereka melanjutkan perjalanan ke Gang Lombok, Bukit Wungkap Kasap Pudakpayung, Banyumanik, tempat Vihara 2.500 Buddha Jayanti, dan berlanjut ke Ambarawa.

”Dari Ambarawa ke Magelang lewat jalan provinsi,” ujarnya.

Pemerintah Kota Semarang mengawal perjalanan para bhiksu atau juga dipanggil bhikku atau bhante tersebut hingga perbatasan dengan Kabupaten Semarang di Ungaran.

”Kami akan mengawal dan mendampingi beliau-beliau di Ungaran, sampai perbatasan,” kata Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Joko Hendrianto, Senin (29/5). 

Sepanjang perjalanan dari Semarang hingga Ambarawa para bhiksu itu dikawal oleh polisi, tentara, bahkan juga para anggota Banser Nahdlatul Ulama  maupun masyarakat lainnya. Mereka berjalan cepat, dengan mengenakan sepatu sandal dengan berkaos kaki. Jubah warna kuning tanah liat melekat erat di tubuhnya. Para pendeta Buddha ini tampak sehat, tangguh, dan selalu tersenyum menyapa warga yang ingin tahu ritual thudong sekaligus menyapa mereka. 

Tags:    

Similar News