DLH Sukoharjo antisipasi dampak limbah di Bengawan Solo saat kemarau
Elshinta.com, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah memberikan sosialisasi berupa imbauan pada pelaku usaha agar mengantisipasi dampak limbah sepanjang musim kemarau ini. Utamanya adalah industri yang biasa membuang limbahnya ke Sungai Bengawan Solo.
Elshinta.com - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah memberikan sosialisasi berupa imbauan pada pelaku usaha agar mengantisipasi dampak limbah sepanjang musim kemarau ini. Utamanya adalah industri yang biasa membuang limbahnya ke Sungai Bengawan Solo.
Limbah yang masuk kesungai saat air sedang surut akan berpotensi menimbulkan dampak berupa bau pada udara maupun air bersih yang bersumber dari Bengawan Solo.
Kepala DLH Sukoharjo, Agus Suprapto mengatakan, antisipasi dilakukan terkait kerawanan pelanggaran pencemaran lingkungan dampak pembuangan limbah industri, yang mengalirkan ke sungai memanfaatkan derasnya arus air saat musim hujan. Hal berbeda terjadi saat musim kemarau dimana debit air menyusut.
Kerawanan dampak limbah biasa muncul setiap musim kemarau. Hal ini tidak lepas dari banyaknya industri yang membuang limbah ke sungai. Proses pembuangan limbah pada saat arus deras tidak terlalu terlihat dampaknya karena akan langsung hilang terbawa air.
"Berbeda saat limbah industri dibuang pada musim kemarau maka dampaknya langsung dirasakan karena akan melalui proses mengendap," ungkap Agus, seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Deni Suryanti.
Dia menambahkan, dinas memantau ketat beberapa wilayah sentra industri atau tempat usaha seperti di Kecamatan Sukoharjo, Grogol, Nguter, Mojolaban dan Polokarto. Pelaku industri dan usaha diminta mematuhi aturan terkait dampak lingkungan yang dihasilkan.
Hal ini sudah sesuai dengan dokumen perizinan saat mereka mengajukan izin usaha. Apabila dilanggar maka konsekuensi sanksi sesuai Undang-Undang yang berlaku.
Sejumlah warga dibantaran sungai beberapa sudah menyampaikan keluhan limbah mencemari air baku. "Perusahaan besar relatif aman, yang sulit itu industri kecil skala rumahan," kata dia.
Di Kabupaten Sukoharjo, lanjut Agus , berdiri ratusan industri baik skala kecil, sedang dan besar. Belum lagi ditambah pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dimana usaha yang dijalankan juga dapat menghasilkan limbah.
Sistem pengolahan limbah diharapkan dapat dilaksanakan dengan menerapkan sistem pengolahan modern. Apabila ada limbah dihasilkan dalam bentuk cair maka dilakukan pengolahan lebih dulu sesuai ambang batas kelayakan sebelum dibuang dan dialirkan ke sungai. "Pelaku usaha sudah dipanggil dan diberikan sosialisasi soal limbah," tutupnya.