Kisah Jubun jalani profesi sebagai detektif

Elshinta.com, Jubun mulai mencoba profesi detektif saat dirinya dimintai tolong oleh rekannya.

By :  Widodo
Update: 2023-08-25 17:19 GMT
Jubun, yang lebih dikenal sebagai Detektif Jubun tak pernah menyangka dirinya akan berkecimpung di dunia penyelidikan berbagai kasus. (foto:ist)

Elshinta.com - Banyak pekerjaan yang dapat membuat seseorang merasa spesial. Pekerjaan yang memungkinkan seseorang untuk merasa memiliki dampak positif pada kehidupan orang lain atau masyarakat umumnya.

Seperti pekerjaan di bidang medis, pendidikan, pekerjaan sosial, atau seni.

Sejumlah pekerjaan di atas sangat umum ditemui. Namun bagaimana dengan profesi sebagai detektif swasta? Pekerjaan yang bahkan sulit dibayangkan oleh seseorang jika betul-betul membayangkannya. Nah ini yang dialami oleh Jubun.

Jubun, yang lebih dikenal sebagai Detektif Jubun tak pernah menyangka dirinya akan berkecimpung di dunia penyelidikan berbagai kasus tersebut.

Padahal, sebelumnya Jubun memiliki kesibukan sebagai pengusaha yang menyediakan layanan jasa petugas keamanan untuk instansi, mall, dan pengawal pribadi.

"Saya benar-benar tidak berangan-angan dan terpikirkan sama sekali bekerja sebagai detektif," kata Jubun  di Mall PIK Avenue, Pantai Indah Kapuk (PIK), Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara beberapa waktu lalu.

Jubun mulai mencoba profesi detektif saat dirinya dimintai tolong oleh rekannya.

Di tahun 2007 silam, rekan Jubun membagikan cerita jika keponakannya menghilang selama tiga tahun setelah pertengkaran. Berbagai cara untuk menemukan keponakan tersebut telah dilakukan namun tidak mendapatkan hasil.

Mulai dari situ, rekannya tersebut meminta bantuan Jubun untuk menemukan sang keponakan. Jubun terketuk hatinya untuk membantu rekannya tersebut. 

"Jadi, mamanya itu waktu itu ada penyakit. Kata dokter, ini penyakit berbahaya dan mesti ambil tindakan medis. Mamanya bilang, 'Sebelum gue meninggal, gue ingin bertemu dengan anak'," ujar Jubun.

Singkat cerita, setelah melakukan penyelidikan akhirnya keponakan rekannya bisa ditemukan dan keluarga mereka sangat berterima kasih pada Jubun.

Seketika, Jubun mulai mengubah arah profesinya yang sebelumnya penyedia layanan kemudian mendalami profesi sebagai detektif swasta.

Seiring berjalannya waktu, Jubun mempelajari tentang perkembangan teknologi dan internet. Ia juga memperluas jaringan relasi, dan bahkan bergabung dalam komunitas detektif internasional.

Dengan tingginya permintaan, Jubun mendirikan agensi Aman Sentosa Investigation pada tahun 2008. Ia juga merekrut anggota tim untuk membantu operasionalnya.

"Kami ada tiga tim. Tim pertama untuk menggali informasi target melalui media sosial, ada tim yang menjalin hubungan emosional dengan target, dan tim pengintaian," ungkap Jubun.

Namanya juga pekerjaan yang banyak rahasia. Dalam menjalankan pekerjaannya, ia memastikan bahwa timnya tak saling kenal untuk menjaga kerahasiaan klien dan profesionalisme kerja.

Dari ribuan kasus yang telah ditangani, 85 persen di antaranya terkait dengan masalah rumah tangga. Sisanya, termasuk penipuan, orang hilang, dan bahkan pencarian informasi untuk keperluan politik. 

"85 persen itu adalah case rumah tangga. Karena kita melihat perkembangan media sosial. Itu, tingkat perselingkuhan semakin tinggi. Kalau zaman dulu, orang bisa affair karena bertemu teman kerja di kantor. Kalau di dunia maya kan beda," ungkap Jubun.

Saat ditanya mengenai siapa saja kliennya, secara profesional Jubun merahasiakannya. Hanya saja ia membocorkan sedikit informasi bahwa rata-rata kliennya  dari kalangan menengah ke atas termasuk artis dan politisi. 

"Kebanyakan ibu rumah tangga (IRT). Tapi ada yang artis, pejabat publik, figur publik, tokoh agama, petinggi partai politik, itu ada," ucap Jubun.

Hal itu karena bayaran untuk jasa detektif tidaklah murah. Bahkan biayanya menyentuh angka puluhan juta. 

"Sekitar Rp15 juta, Rp30 juta, Rp40 juta, Rp60 juta, hingga Rp80 juta. Kenapa angkanya berbeda? Seperti artis atau figur publik, ketika pasangannya selingkuh, kan perginya ke Singapura atau Amerika Serikat dan tinggal di penthouse atau apartemen private," ujar Jubun.

Namun angka tersebut masih bisa disesuaikan dengan sasaran operasi serta kondisi lapangan.

"Tapi kalau secara umum, Rp15 juta hingga Rp20 juta," imbuh Jubun.

Selama menggeluti profesi sebagai detektif, Jubun sangat menikmati pekerjaannya dan merasa bahagia karena ia dapat membantu individu yang sedang menghadapi kesulitan dalam hidup.(Dd)

Tags:    

Similar News