Sebanyak 8 ribu jiwa di Sukoharjo bergantung air bersih dari truk tanki

Sebanyak 2.194 Kepala Keluarga (KK) atau sedikitnya 8.000 jiwa kekurangan air bersih terdampak kemarau. Jumlah tersebut dimungkinkan bisa bertambah mengingat kondisi cuaca panas dampak fenomena gelombang El Nino masih terjadi di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Update: 2023-09-14 15:36 GMT
Sumber foto: Deni Suryanti/elshinta.com.

Elshinta.com - Sebanyak 2.194 Kepala Keluarga (KK) atau sedikitnya 8.000 jiwa kekurangan air bersih terdampak kemarau. Jumlah tersebut dimungkinkan bisa bertambah mengingat kondisi cuaca panas dampak fenomena gelombang El Nino masih terjadi di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo, Ariyanto Mulyatmojo mengatakan, BPBD mencatat ada 12 desa di tiga kecamatan terdampak kekeringan akibat musim kemarau tahun ini. Meliputi 32 dusun dimana sebanyak 2.194 KK atau 8.002 jiwa menggantungkan sumber air bersih dari bantuan droping air secara rutin. Di Kecamatan Tawangsari terdapat tiga desa, Kecamatan Bulu ada tiga desa sementara di Kecamatan Weru terdapat enam desa terdampak krisis air bersih.

BPBD memperkirakan dampak kemarau akan terus meluas utamanya di wilayah selatan kabupaten. Yakni wilayah yang sudah masuk peta zona merah rawan kekeringan. Hanya saja, terjadi pergeseran titik rawan dari tahun sebelumnya masih dalam satu zona karena dampak El Nino.

"Sesuai dengan peta rawan bencana kekeringan yang dimiliki oleh kabupaten," kata dia seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Deni Suryanti, Kamis (14/9). 

Ariyanto Mulyatmojo menambahkan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa kemarau tahun ini akan berlangsung lebig lama. Setiap daerah sudah diminta melakukan langkah penanganan potensi dampak kekeringan. Suplai air bersih melalui pengiriman rutin  menggunakan truk tanki terus dilakukan untuk skema hingga Bulan Desember mendatang. Sebab sumber air bersih yang ada disekitar desa sebagian besar mengering dan sedikit yang masih bisa digunakan mengalami penurunan debit air yang cukup drastis.

"Sumur yang masih keluar airnya harus nunggu dua hari agar bisa diambil," imbuhnya.

Sementara, Sekretaris Daerah (Sekda) Sukoharjo Widodo menyebutkan,air bersih diserahkan langsung ke warga terdampak kekeringan. Secara teknis air bersih dikirim ke sumur atau tempat penampungan milik desa dan pemanfaatan dilakukan bersama. Selain itu air bersih juga bisa dikirim langsung ke rumah warga atau menggunakan wadah seperti bak penampungan. Pemerintah daerah meminta kepada pemerintah kecamatan dan pemerintah desa turun langsung memantau ke lapangan guna memastikan kebutuhan air bersih warga terpenuhi. 

Tags:    

Similar News