Pakar komunikasi nilai gestur foto Firly-SYL tidak terlihat ada gelagat pemerasan

Pakar Komunikasi Universitas Pelita Harapan (UPH), Dr. Emrus Sihombing menilai, dugaan pemerasan oleh pimpinan KPK merupakan indikasi kuat koruptor melawan balik proses hukum korupsi yang tengah ditangani.

Update: 2023-10-12 16:03 GMT
Sumber foto: Istimewa/elshinta.com.

Elshinta.com - Pakar Komunikasi Universitas Pelita Harapan (UPH), Dr. Emrus Sihombing menilai, dugaan pemerasan oleh pimpinan KPK merupakan indikasi kuat koruptor melawan balik proses hukum korupsi yang tengah ditangani.

Hal tersebut dijelaskannya di sela diskusi publik bertajuk “Mengawal Agenda Antikorupsi Bersama KPK” yang digelar Lembaga Pemilih Indonesia di Jakarta, Senin (9/10/2023).  

Dia berharap agar aparat penegak hukum fokus pada kasus korupsinya.

“Padahal kita sadar bahwa korupsi termasuk extraordinary crime atau kejahatan yang sangat luar biasa. Saya tidak katakan bahwa pemerasan itu adalah suatu hal yang baik. Tapi tidak pada kategori yang extraordinary crime. Itu sebabnya, alangkah baiknya menurut saya idealnya tindak pidana korupsi ini harus diprioritaskan,” ujarnya seperti dilaporkan Reporter Elshinta, Supriyarto Rudatin, Kamis (12/10). 

Terkait foto yang beredar, Emrus menilai dari perspektif gestur tidak cukup kuat bagi penegak menyeret ketua KPK melakukan upaya pemerasan kepada mantan Mentan Sahrul Yasin Limpo.

“Dari foto yang sudah beredar, terlihat bahwa gestur Firly sangat merasa tidak nyaman, cukup percaya diri dan tegas. Itu dibuktikan dengan satu kaki Firly yang diangkat di dengkul.

Dia menjelaskan gestur SYL seperti tengah memohon sesuatu. Dan itu terjadi di ruang publik, kecuali memang foto itu ada di ruang privat lalu difoto itu juga banyak orang artinya ada orang lain, tidak hanya mereka berdua. 

“Artinya, kalau foto itu lalu menjadi bukti materiil di persidangan yang akan dipakai untuk indikasi pemerasan oleh pimpinan KPK, menurut saya tidak akan cukup kuat sebagai bukti,” katanya.  

Emrus pun berharap, publik dan pimpinan KPK dapat terus mencermati agenda pemberantasan korupsi, terlebih di tahun politik ini.  

Menurutnya, tugas dan fungsi yang telah dilakukan oleh pimpinan KPK sejauh ini sudah cukup baik dan semua kewenangan institusi anti rasuah harus tetap dikawal dan diawasi bersama oleh seluruh pihak. 

Selain Emrus acara diskusi menghadirkan pula, Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia, Boni Hargens, Ph.D, mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) Laksda TNI (Purn) Soleman B Ponto, Pakar Kebijakan Publik dari Wellbeing Institute, Dr. Asep Kusnanto, Presenter dan Redaktur Akurat, Ratu Tiara serta Pakar Hukum Pidana Unpad Prof. Romli Atmasasmita via zoom meeting.

Diketahui, Dewan Pengawas (Dewas) KPK saat ini tengah mengumpulkan bukti mengenai dugaan pelanggaran yang dilakukan Ketua KPK Firli Bahuri. Dewas telah menerima laporan terkait foto pertemuan Firli dengan SYL di lapangan badminton. ”Yang masuk laporan soal foto di lapangan badminton. Tidak ada laporan dugaan pemerasan yang masuk ke dewas,” ujar anggota Dewas KPK Albertina Ho. Meski begitu, menanggapi pemberitaan yang ada, dewas mulai mengumpulkan bukti-bukti.

Tags:    

Similar News