Srikandi maggot, awalnya geli kini jadi cuan
Belakangan budidaya maggot atau budidaya lavra lalat Black Soldier Fly atau yang lebih dikenal dengan nama lalat BSF. Perawatannya yang tergolong mudah membuat banyak orang mulai membudidayakannya bukan hanya untuk pakan ternak namun sumber protein yang tinggi membuat lalat BSF diburu untuk diolah oleh beberapa produsen menjadi wey protein.
Elshinta.com - Belakangan budidaya maggot atau budidaya lavra lalat Black Soldier Fly atau yang lebih dikenal dengan nama lalat BSF. Perawatannya yang tergolong mudah membuat banyak orang mulai membudidayakannya bukan hanya untuk pakan ternak namun sumber protein yang tinggi membuat lalat BSF diburu untuk diolah oleh beberapa produsen menjadi wey protein.
Salah satunya yang membudidayakan maggot sejak 2 tahun lalu adalah Kelompok Maggot Pertatonik yang diketuai oleh Ahmad Sodrik. Pria berusia 60 tahun ini bersama dengan kelompoknya membudidayakan maggot yang berlokasi di Jalan Sei Wain, Rt. 36 Karang Joang, Kilo 15, Kelurahan Balikpapan Utara, Balikpapan, Kalimantan Timur.
Awal mulanya Sodrik dan kelompoknya hanya bertani biasa dirumah masing-masing. Lalu mulai berkenalan dengan lalat BSF yang dibawa oleh Enviro Strategic Indonesia dan PT Kilang Pertamina Indonesia sehingga ia mulai membangun kelompok budidaynya bersama 7 orang lain yang merupakan warga sekitar.
“Dulu awal mulanya dibawa dari Bandung bibitnya, mulai kita kembangkan disini sedikit-sedikit sebagai pengganti pakan ayam dan lele, jadi bisa lebih hemat pengeluaran untuk pakan ternak kita,” kenang Haji Sodrik (sapaan akrabnya), saat ditemui siang itu bersama dengan kelompok taninya dirumah pembiakan maggot Sabtu lalu (7/10/2023).
Budidaya maggot sendiri memiliki banyak keuntungan selain mengurai sampah rumah tangga, sisa dari penguraian juga dapat dijadikan sebagai pupuk tanaman, sehingga tak ada yang terbuang dari budidaya maggot ini. Dalam sepekan bayi larva maggot bisa mengkonsumsi sekita 25 kg – 35 kg sampah sisa makanan yang didapatkan dari berbagai tempat salah satunya dari Pertamina.
Dalam kelompok tani ini juga terdapat 5 perempuan hebat yang ikut membudidayakan maggot. Jika pada umumnya perempuan sangat anti berkotor-kotor apalagi memegang hewan melata, tidak dengan Sri Widiastuti ( 37), Adolfina (40), Riri Juariyah (50), Nurhayan (43), dan Rizki (34). Kelimanya adalah srikandi diperternakan maggot tersebut.
“Awalnya kami itu geli ya, karena masih gerak-gerak kan, tapi lama-lama biasa karena sampahnya juga kan bukan sampah kotor tapi bersih karena sisa makanan saja,” tutur Sri sembari tertawa mengingat pertama kali ia ikut budidaya maggot.
Proses dari bertelur hingga menetas maggot adalah 3 hari, lalu menjadi maggot dewasa hingga siap panen memakan waktu sekitar 14 hari. Kandungan protein dalam maggot sendiri adalah sebanyak 42% sehingga sangat bagus untuk menjadi pakan hewan ternak. Namun sayangnya setelah bertelur lalat BSF akan langsung mati.
“Baru bulan Agustus tadi kita panen ayam juga, yang pakannya dari maggot ini, lumayan menurunkan uang pakan buat ternak kita jadi separoh,” terangnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Rizkia, Rabu (01/11).
Dalam pembudidayaannya kelompok ini menyiapkan ruangan sederhana untuk tempat lalat BSF kawin, lalu akan bertelur di sebuah tempat khusus yang berukuran 2x3, yang nantinya setelah menetas akan dipindahkan ke tempat lain yang lebih besar untuk dilakukan pembesaran. Setelah 14 hari maggot dewasa akan dipanen untuk makan ternak.
“Kalau dijual belum ya karena kami juga masih kekurangan, jadi sementara hanya penggunaan pribadi, soalnya untuk dapat sampah makanannya agak sulit, dulu ada yang ambil kita punya VIAR kok tapi sekarang sudah ga ada orangnya, jadi ya nganggur,” keluh Adolfina.
Dalam pembesaran ternak yang diberi makan maggot BSF dikatakan Adolfina pembesarannya lebih cepat dari yang diberi pakan biasa. “Biasa kita panen 2 sampai 3 bulan tapi setelah makan maggot jadi lebih cepat yaitu 1,5 bulan sudah bisa panen, lebih irit dari pada pelet sih,” tukasnya.
Selama 2 tahun kelompok ini pun sudah laksanakan 4 kali panen. Untuk ayam bisa dijual kisaran Rp. 42 hingga Rp. 45 ribu perekornya, sedangkan lele perkilonya dijual dengan harga Rp. 22-23 ribu perkilonya dengan isi sekitar 7-8 ekor perkilonya.
“Alhamdullilah, ada buat tambah-tambah kebutuhan dapur,” tuturnya disambut tawa khas ibu-ibu.
Juariyah mengungkapkan dengan adanya maggot ini mengurangi biaya pengeluaran pakan yang biasanya butuh 15 karung pelet untuk pakan ayam dan ikan, kini bisa berkurang hingga separuhnya. “Maggot ini sangat membantu menekan biaya pengeluaran pakan ayam dan ikan, ayamnya juga jadi lebih lincah dikasih makan maggot,” ungkap wanita 50 tahun ini.
Selain bersih sisa dari makan maggot digunakan untuk pupuk yang mana hasil sayurannya dibagi dengan anggota petratonik untuk dikonsumsi secara pribadi. Kelompok Petratonik ini berharap budidaya ini dapat terus berlanjut. Selain terbantu dengan mendapat penghasilan tambahan mereka juga bisa punya kegiatan lain selain dirumah dan pengerjaannya tergolong mudah.
“Kami berharap ini bisa menjadi inspirasi bagi orang lain, selain ramah lingkungan juga minim biaya cocok dibudidayakan dirumah masing-masing, jika ingin belajar bisa berkunjung ke tempat-tempat pembudidayaan kami,” tutur Area Manager Communication, Relations & CSR PT KPI Unit Balikpapan, Ely Chandra Paranginangi.
Diketahui Kelompok Petratonik ini telah memiliki kemampuan dalam mengembangkan Maggot. Pada tahun 2022 lalu, kelompok mampu membiakkan Maggot mencapai 385 kg dan kasgot sebanyak 255 kg.