Menghadapi Guinea, mantan Kapten Timnas Seagames berikan masukan untuk Garuda Muda

Timnas Indonesia U-23 bersiap-siap menghadapi timnas asal Afrika, Guinea memperebutkan 1 tiket Olimpiade Paris 2024 di Paris Perancis Kamis (9/4/2024).

By :  Widodo
Update: 2024-05-04 10:17 GMT
Para pemain timnas Indonesia U23 berfoto sesaat sebelum dimulainya pertandingan semifinal Piala Asia U23 kontra Uzbekistan di Abdullah Bin Khalifa Stadium, Doha, Senin (29/4/2024). ANTARA/AFP/Karim Jaafar/am.

Elshinta.com - Timnas Indonesia U-23 bersiap-siap menghadapi timnas asal Afrika, Guinea memperebutkan 1 tiket Olimpiade Paris 2024 di Paris Perancis Kamis (9/4/2024).

Laga ini adalah kesempatan terakhir Garuda Muda asuhan STY bisa tampil di ajang dunia Olimpiade. Jika berhasil menang, dipastikan Rizki Ridho dan kawan-kawan lolos ke Perancis masuk grup A Olimpiade.

Perjuangan timnas tidak mudah karena lawan yang akan dihadapi adalah Guinea dengan karakter pemain tangguh, postur tubuh tinggi serta penuh dengan kejutan.

Di sisi lain pemain timnas hanya memiliki waktu 3 hari untuk istirahat usai dikalahkan Uzbekistan dalam laga semi final dan takluk melawan Irak saat perebutan poisisi 3 Piala Asia. 

Mantan kapten Timnas sepak bola SEA GAMES ke-16 Th. 1991, Ferril Raymond Hatu mengungkap puncak performance timnas adalah saat melawan Korea Selatan.

Namun mental dan fisik pemain mulai drop saat 2 pertandingan terakhir, melawan Uzbekistan dan Irak, ditandai dengan reaksi pemain yang lambat.

Gol-gol yang dicetak Irak ke gawang Indonesia lebih karena kesalahan pemain kita. Ditambah pergantian pemain akibat sanksi kartu merah dipastikan juga berpengaruh pada kekompakan tim.

"Kelihatan secara fisik dan mental pemain kita sudah drop, lawan dengan Irak meski kita sudah unggul 1-0 namun untuk mempertahakan saja sudah sulit. Beberapa kali pemain kita terdiam dahulu, menonton 1-2 detik sehingga tidak antisipatif lagi, kecolongan," papar Ferril dalam wawancara Program Edisi Pagi di Radio Elshinta Sabtu (4/5).

Di sisi lain, postur pemain Afrika seperti Guinea memilki badan lebih tinggi dengan power cukup besar dan memadai. Tim sepak bola asal negara-negara baru di Afrika kerap mengejutkan tim-tim yang sudah eksis di ajang-ajang internasional seperti negara Mali, NIgeria baik Piala Dunia maupun piala Afrika.  

"Pemain-pemain sepak bola Afrika sejak usia muda sudah masuk radar klub-klub Eropa untuk dipersiapkan menjadi pemain masa depan, jadi transfer teknik dan knowlede ke pemain Afrika bisa lebih cepat," ungkapnya

Ferril mencontohkan musim kompetisi sepak bola di Eropa berlangsung sangat ketat dan padat antara 8-9 bulan dilanjutkan dengan istirahat satu bulan.

Setelah libur 1 bulan para pemain mendapat liburan atau refreshing sekaligus memperbaiki mental para pemain serta latihan rutin.

Berbeda dengan kompetisi di Indonesia yang tidak punya waktu disertai tekanan yang terlalu berat. Jutaan dukungan masyarakat Indonesia berharap untuk menang namun dihujat saat melakukan kesalahan. 

"Permainan Afrika mirip dengan Amerika latin dengan skill dan effort tinggi. Timnas harus mampu mengembangan skema sistem permainan lebih efektif, lebih efisien baik bertahan maupun menyerang. Jika itu dilakukan maka kita bisa meredam kelebihan mereka seperti tinggi badan. Persoalan yang dihadapi selanjutnya adalah lelah mental dan fisik, saya setuju dengan cara coach STY dengan meliburkan pemain selama 3 hari agar fresh untuk recovery, menjaga mental tetap tenang sehingga bisa fokus hadapi pertandingan. Kita harus yakin, dukung dan apresiasi, apapun yang mereka lakukan baik pelatih, official, pemain apapun hasilnya adalah yang terbaik mereka lakukan," harap Ferril. (nak)

Tags:    

Similar News