Kota Semarang raih penghargaan pelayaan publik PBB
Kota Semarang memenangkan United Nations Public Service Award. Penghargaan pelayanan publik atas program inovasi stunting dari United Nations (UN) atau Perserikatan Bangsa-bangsa itu merupakan pencapaian internasional tertinggi untuk system pelayanan Pemerintah Kota Semarang kepada masyarakat.
Elshinta.com - Kota Semarang memenangkan United Nations Public Service Award. Penghargaan pelayanan publik atas program inovasi stunting dari United Nations (UN) atau Perserikatan Bangsa-bangsa itu merupakan pencapaian internasional tertinggi untuk system pelayanan Pemerintah Kota Semarang kepada masyarakat yang berkaitan dengan program penurunan angka kematian anak dan kematian ibu. Penghargaan diterima langsung oleh Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu pada gelaran UN Public Service Forum di Incheon, Korea Selatan, Rabu (26/6).
Kabar itu disambut gembira oleh Arie Rukmantara, Kepala UNICEF untuk Wilayah Jawa. “Saya sangat bangga dengan prestasi Kota Semarang. UNICEF mengapresiasi setinggi-tingginya atas kerja keras Walikota, Kepala Dinas Kesehatan, dan seluruh komponen Kota Semarang atas keberhasilan membawa inovasi kebijakan Kesehatan ke tingkat dunia.”
Keberhasilan itu merupakan hasil dari kerja kolegial, guyub, rukun dan kompak seluruh warga. Kesuksesan anak dan ibu di Kota Semarang. Menyejahterakann ibu dan anak adalah investasi berimbal tinggi, kata Arie.
“Hanya Kota Semarang yang mendapatkan penghargaan itu di Indonesia, bahkan di Asia. Melalui program SANPIISAN atau program penurunan angka kematian ibu dan anak sejak tahun 2015, Kota Semarang menunjukkan keberhasilan,” ujarnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Joko Hendrianto.
Program SANPIISAN yaitu program penurunan angka kematian ibu dan anak berdasar laporan data yang teruji, terolah, dan tervalidasi berdasar laporan masyarakat. Di Kota Semarang, jika ada Perempuan yang akan melahirkan, tetangganya siap mengantarkan ke rumah sakit. Rumah sakit pun juga siap melayani ibu yang akan melahirkan tersebut. Ada dokter yang siap menangani.
Di kampung pun ada pelatihan kesehatan mencegah stunting. Itu artinya kesehatan ibu dan balitanya kualitas hidupnya tinggi.
Arie berharap kota lain bisa mengikuti program Kota Semarang. Prestasi itu juga membuktikan keseriusan luar biasa pencapaian Kota Semarang.
Data di Dinas Kesehatan Kota Semarang menunjukkan pada tahun 2015 angka kematian ibu saat melahirkan mencapai 128 orang dari 100.000 ibu yang melahirkan. Angka kematian itu turun drastic menjadi 67,25 pada tahun 2022. Sementara pelayanan terhadap ibu yang hamil pada tahun 2015 mencapai 53 persen, pada tahun 2022 telah mencapai 100 persen.
Untuk angka kematian bayi pada tahun 2015 ada 8,4 dari 1.000 kelahiran. Angka itu turun menjadi 5,6 pada tahun 2022.
Dari data itu terlihat pelayanan terhadap ibu hamil makin bagus sehingga bayi yang lahir sehat, ibunya sehat. Demikian juga setelah melahirkan. Kesehatan anak dan ibunya juga terjaga hingga anak dewasa.
“Program ini harus dipromosikan seluas-luasnya. Ini dijadikan keberhasilan kota Semarang. Unicef berharap Pemerintah Jateng bisa menemukan model agar bisa diterapkan di kabupaten dan kota lain. Ini merupakan hasil otonomi daerah yang baik. Keberhasilan ini adalah kerja kolegial, kerja guyub masyarakat yang dapat diterapkan di seluruh provinsi di Indonesia,” ujar Arie.