Dugaan kejahatan seksual di pembunuhan penjual gorengan di Pariaman

Motif kejahatan seksual diduga menjadi penyebab kasus rudapaksa berujung pembunuhan yang menimpa NKS (18), gadis penjual gorengan, di Padang Pariaman, Sumatera Barat. Dosen Hukum Pidana yang juga Kriminolog dari Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung, Prof. Nandang Sambas mengatakan motif tersebut terlihat dari barang bukti seperti uang dan barang jualan korban yang berserakan serta baju yang tidak jauh dari lokasi korban ditemukan dan terkubur tanpa busana.

Update: 2024-09-13 15:41 GMT
Kepolisian terus memeriksa sejumlah saksi dan mencari sebanyak mungkin barang bukti untuk mengungkap kasus diduga pembunuhan tersebut. (Melani Friati/Fahrul Marwansyah/Ardi Irawan)

Elshinta.com - Motif kejahatan seksual diduga menjadi penyebab kasus rudapaksa berujung pembunuhan yang menimpa NKS (18), gadis penjual gorengan, di Padang Pariaman, Sumatera Barat. Dosen Hukum Pidana yang juga Kriminolog dari Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung, Prof. Nandang Sambas mengatakan motif tersebut terlihat dari barang bukti seperti uang dan barang jualan korban yang berserakan serta baju yang tidak jauh dari lokasi korban ditemukan dan terkubur tanpa busana.

“Jika dilihat dari barang-barang bukti yang terkumpul oleh penyidik, ternyata uang dan barang jualannya masih ada. Justru yang ditemukan barang bukti pakaian korban yang terpisah lokasinya. Dan korban yang terkubur tanpa busana. Dugaan korban mengalami kejahatan seksual akan muncul dan menguat. Jadi, ini motif utamanya kemungkinan karena seksual dan menimbulkan kematian bisa saja terjadi karena korban memberontak dan pelaku panik,” ujar Nandang dalam wawancara bersama Radio Elshinta pada Jumat (13/9/2024)

Nandang juga memperkirakan bahwa pelaku bisa saja merupakan orang yang dikenal dan sudah lama mengincar korban. Mengingat berdasarkan keterangan keluarga, rute jalan korban berjualan gorengan tidak pernah berubah dan lokasinya sepi karena melewati perkebunan.

“Menurut analisa saya, ini bukan orang yang baru datang ke lokasi itu. Tampaknya ini sudah mengenal korban. Apalagi tidak jauh rumahnya dengan lokasi korban ditemukan, kemungkinan korban sudah menjadi target. Pada saat kondisi yang sepi terjadilah. Tinggal nanti apakah itu pelakunya anak atau dewasa. Kita lihat saja nanti,” paparnya.

Nandang Sambas yakin bahwa polisi sebentar lagi akan berhasil menangkap dan mengumumkan sang pelaku. “Saya yakin seyakin-yakinnya, polisi akan mengungkap siapa pelaku dari kasus ini sebentar lagi. Karena barang-barang bukti sudah mampu dikumpulkan,” kata Nandang

Seperti diketahui NKS (18) ditemukan terkubur tanpa busana di sebuah perkebunan yang tak jauh dari rumahnya. Ia dikenal sebagai gadis penjual gorengan yang berjualan sejak SMP untuk membiayai pendidikannya sendiri. Polisi masih menyelidiki kasus ini dan belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka, sampai berita ini diturunkan.

Kasus ini membuat masyarakat semakin prihatin, mengingat kondisi saat ini semakin rawan terjadi kejahatan seksual dengan korban anak dan perempuan. Beragam faktor seperti  lingkungan dan kemajuan teknologi yang tak terkendali, terutama media sosial, menjadi salah satu hal yang mendorong meningkatnya kerawanan yang ada.

“Kita turut prihatin fenomena terkait anak, baik pelaku maupun korban dari pemberitaan dan informasi yang diterima di media, kan semakin tinggi dan sering terjadi. Namun ini tidak terlepas dari pengaruh lingkungan di masyarakat dan media sosial,” paparnya.

Menilik berbagai kasus yang pernah terjadi, lokasi yang sepi seringkali membuka ruang bagi pelaku untuk mempunyai waktu dengan kondisi atau suasana yang tenang dalam melakukan kejahatan.

“Dalam kasus anak sebagai korban, pada umumnya justru bukan terjadi di tempat-tempat publik atau keramaian. Banyak kasus yang terjadi di rumah bahkan tak jarang pelakunya adalah keluarga. Memang agak susah ditebak tapi bisa diidentifikasi,” tutup Nandang. (Sus/Ter)

Tags:    

Similar News