Polisi dalami kasus peretasan yang menjerat guru SD
Bareskrim Polri menyelidiki kaitan dugaan kebocoran 6 juta data Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dengan kasus peretasan yang menjerat seorang guru honorer sekolah dasar (SD). Penyelidikan dilakukan Bareskrim bersama Badan Siber Sandi Negara (BSSN)
Elshinta.com - Bareskrim Polri menyelidiki kaitan dugaan kebocoran 6 juta data Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dengan kasus peretasan yang menjerat seorang guru honorer sekolah dasar (SD). Penyelidikan dilakukan Bareskrim bersama Badan Siber Sandi Negara (BSSN)
"Kita juga sedang melakukan penyelidikan, apakah ada hubungannya dengan yang ini (Kasus peretasan yang menjerat guru SD)," ujar Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim, Brigjen Himawan Bayu Aji di Jakarta, Selasa (24/9/2024).
Bareskrim sebelumnya menetapkan seorang guru honorer SD berinisial BAG (25) sebagai tersangka. BAG diduga meretas situs Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan menjual data yang dicurinya.
Himawan mengatakan, polri menjalin komunikasi dengan BSSN termasuk untuk melakukan forensik digital. "Seperti apa sih tipikal dan topologinya, itu menjadi suatu hal penting untuk nanti arah penyelidikan," tandasnya.
Himawan mengatakan, pemeriksaan untuk menggali informasi masih berproses. Soal ada tidaknya indikasi kuat pembobolan data NPWP terhubung dengan kasus peretasan yang menjerat guru SD, menurutnya hal itu masih dipelajari.
"Nanti kita komunikasikan dengan beberapa kementerian," ujarnya.
Seperti diketahui 6 juta data NPWP dan NIK diduga diretas hacker Bjorka. Data yang bocor diduga termasuk data Presiden Jokowi, Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Pegiat keamanan siber Teguh Aprianto yang mengabarkan kebocoran data tersebut.
Pemilik akun X, @secgron ini Rabu lalu, mengunggah tangkapan layar sebuah akun bernama Bjorka yang menjual 6 juta data NIK dan NPWP tersebut. (Rap/Nak)