Dinkes Majalengka terus turunkan angka prevalensi stunting
Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka, Jawa Barat sedang mempersiapkan pelaksanaan survei Status Gizi Indonesia tahun 2024.
Elshinta.com - Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka, Jawa Barat sedang mempersiapkan pelaksanaan survei Status Gizi Indonesia tahun 2024. Survei Status Gizi dilakukan untuk mengetahui berapa prevalensi atau jumlah kejadian stunting di Kabupaten Majalengka
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka, Evi Fachlaeli, SKM, M.Epid, menuturkan prevalensi stunting atau jumlah kejadian stunting di Kabupaten Majalengka berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia masih di angka 24,1 persen Pada tahun 2023.
"Untuk tahun 2024 ini, kami, Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka sedang mempersiapkan pelaksanaan survei Status Gizi Indonesia tahun 2024 untuk mengetahui berapa prevalensi atau jumlah kejadian stunting di Kabupaten Majalengka. Semoga hasilnya turun sesuai target tahun 2024 ini sebesar 16 persen," kata Evi Fachlaeli, Sabtu (5/10).
Untuk itu, ia meminta peran aktif masyarakat dan semua stakeholder terhadap pelaksanaan kegiatan survei status gizi Indonesia tahun 2024 sehingga penurunan jumlah kasus stunting sesuai target
"Kami mohon partisipasi dan kerjasama dari multi stakeholders dan masyarakat yang seluruhnya di Kabupaten Majalengka dapat melakukan, mensukseskan kegiatan survei Status Gizi Indonesia tahun 2024 terutama pada blok sensus yang telah ditentukan sebanyak 78 blok sensus," ujarnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Enok Carsinah, Senin (7/10).
"Semoga kegiatan ini dapat memberi gambaran secara real berapa besaran masalah angka stunting di Kabupaten Majalengka," tambahnya.
Evi juga memaparkan, pencegahan stunting dimulai dari aktivitas sebelum terjadinya kehamilan yaitu persiapan sebelum hamil, masa kehamilan dan setelah anak lahir sampai umur golden period sampai seribu hari pertama kehidupan diteruskan sampai 59 bulan atau 5 tahun
"Dari fase-fase tersebut dapat dilakukan beberapa pencegahan yang pertama adalah minum tablet tambah darah bagi remaja putri sebagai upaya pencegahan anemia bagi remaja putri, kemudian yang kedua yaitu pemeriksaan atau screening layak hamil bagi pasangan usia subur dengan mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan untuk dapat memeriksakan diri apakah sudah layak untuk hamil dengan melakukan triple eliminasi yaitu pencegahan penyakit," urainya.
Selian itu kata dia, ada tiga penyakit yang bisa dicegah sebelum terjadi kehamilan, kemudian ibu hamil juga dilakukan pemeriksaan sebanyak enam kali dan dua diantaranya pada trimester 1 dan trimester pemeriksaan k1 dan k5 itu diperiksa oleh dokter dengan penggunaan USG kemudian minum tablet tambah darah bagi ibu hamil sebanyak minimal 90 tablet pertama kehamilan kemudian makan makanan yang seimbang termasuk protein hewani di dalamnya.
Kemudian bersalin di tempat persalinan di pelayanan kesehatan selanjutnya pada saat bersalin dilakukan pelayanan bagi bayi baru lahir dengan pemeriksaan screening hipotiroidikogenital dilanjutkan dengan pemberian asih eksklusif
Kemudian setelah sampai dengan enam bulan, mulai pemberian makanan pendamping asi yang tinggi protein hewani lalu berkunjung ke posyandu setiap bulan untuk dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita kita, lalu penggunaan alat kontrasepsi bagi ibu pasca melahirkan. Lalu berikutnya yaitu tetap merujuk bagi anak yang memang pertumbuhannya kurang dari standar tinggi badan atau kurang dari 2 standar deviasi
"Jadi sebenarnya aktivitas untuk mencegah atau mengupayakan zero news stunting itu adalah aktivitas kita sehari-hari dalam berkehidupan mendapatkan layanan terutama bagi sasaran yang masih dalam rentang produktif yaitu masa reproduktif atau pasangan usia subur baik sebelum hamil kemudian pada masa hamil dan setelah anak lahir. Sehingga anak yang lahir adalah anak yang sehat yang kuat yang cerdas sehingga bisa menjadi generasi emas menjadi generasi penerus harapan bangsa dan harapan kita semua menjadi sumber daya manusia yang unggul," tandasnya.