FK-KMK UGM gelar ASM bahas penanggulangan Tuberkulosis
Tuberkulosis merupakan penyakit akibat infeksi dari Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis) yang merupakan bakteri intraseluler dan penularannya melalui penyebaran droplet (cairan hidung dan mulut) dari orang yang sakit ke orang yang sehat.
Elshinta.com - Tuberkulosis merupakan penyakit akibat infeksi dari Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis) yang merupakan bakteri intraseluler dan penularannya melalui penyebaran droplet (cairan hidung dan mulut) dari orang yang sakit ke orang yang sehat. Di dunia, sekitar 1/3-1/4 penduduk dunia telah terinfeksi, Sebagian besar adalah infeksi laten dan sekitar 15-20% merupakan penyakit yang aktif. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita terbanyak nomor dua di dunia setelah India, sehingga masih merupakan masalah Kesehatan masyarakat (public health concern) baik secara infeksi baru, morbiditas, dan mortalitas.
Mengingat masih tingginya kasus TBC di Indonesia dan perlunya penanggulangan yang komprehensif maka Annual Scientific Meeting (ASM) tahun 2025 yang digelar oleh Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama sejumlah rumah sakit di Yogyakarta mengangkat tema “Penanggulangan Tuberkulosis dalam Perspektif 6 Pilar Transformasi Bidang Kesehatan.”
Dilaporkan Kontributor Elshinta, Izan Raharjo, acara ini dilaksanakan di Ruang Auditorium, lantai 5 RS Akademik UGM, Sabtu (15/02/2025).
Acara ini digelar dalam rangka perayaan Dies Natalis ke-79 FK-KMK UGM, HUT ke-13 Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, HUT ke-43 RSUP Dr. Sardjito, dan HUT ke-97 RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro. Banyak pakar yang dihadirkan dalam ASM ini seperti Direktur Utama RS Akademik UGM – Dr. Dr. Darwito, SH, SpB(K)Onk; Dekan FK-KMK UGM Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc, Ph.D, FRSPH; Tim Kerja TB Kemenkes RI dr. Tiffany Tiara Pakasi, MA; Ketua Dies Natalis ke-79 FK-KMK UGM Dr. dr. Tri Ratnaningsih, M.Kes, Sp.PK(K); Ketua ASM 2025 - Prof. dr. Yanri Wijayanti Subronto, Ph.D., Sp.PD-KPTI, dan Ketua Equal Run RS Akademik UGM dr. Yudhanto Utomo, Sp.N.
Tantangan besar dalam bidang Tuberkulosis adalah tidak mudahnya cara diagnosis infeksi dan penyakit. Diagnosis TBC memerlukan anamnesis yang ditujukan untuk mendeteksi gejala yang khas infeksi TBC, antara lain demam subfebrile, penurunan berat badan, batuk (produktif), dan keringat malam. Pemeriksaan untuk mendeteksi adanya infeksi dan penyakit antara lain: pemeriksaan apusan sputum BTA, kultur BTA, tes cepat molekuler (genXpert), ronsen, dan pemeriksaan yang baru lainnya. Tes cepat molekuler merupakan hasil kemajuan teknologi dalam bidang molekuler dimana pemeriksaan ini dapat mendeteksi adanya bakteri M. tuberculosis dan sekaligus mendeteksi adanya resistensi terhadap obat TB jenis Rifampicin yang merupakan tantangan tambahan dalam terapi TBC.
Kebijakan Kementerian Kesehatan terkait Penanggulangan TBC terutama adalah skrining dan diagnosis TBC dengan menggunakan TCM, dan perlu diketahui hasil evaluasi dan tantangan dalam penerapannya. Pemeriksaan radiologi sejak dulu merupakan pemeriksaan pendukung untuk diagnosis TBC paru maupun ekstraparu, yaitu dengan ronsen dada biasa, CT-scan, maupun MRI.
Saat ini teknologi Artificial Intellegent (AI) telah digabungkan dengan pemeriksaan X-ray, atau disebut sebagai Computer-Assisted Detection (CAD) dimana mesin X-ray tersebut dapat secara otomatis membaca dan menganalisa hasil pemotretan, bahkan mesinnya dapat bersifat portable (mudah dibawa). Projek Zero-TB merupakan projek penelitian terkait CAD yang dilakukan di Yogyakarta sebagai pionirnya dan perlu diketahui oleh kalangan lebih luas.
Pada masa pandemi COVID-19, terciptalah alat yang disebut dengan Ge-nose dimana alat ini mendeteksi substansi volatile yang spesifik terhadap infeksi Corona virus-29 yang dikeluarkan dari nafas seseorang. Teknologi pendeteksian substansi volatile ini sebenernya sudah ada sebelum masa pandemic dan salah satunya adalah untuk mendeteksi infeksi TBC yang diteliti oleh pakar di UGM yang waktu itu disebut dengan e-nose (electric nose).
Saat ini e-nose untuk TBC masih terus dikembangkan dan diteliti, bahkan menerima penghargaan nasional maupun internasional karena dinilai sebagai terobosan untuk deteksi TBC dengan lebih mudah dan spesifik, serta dapat dilakukan diluar lokasi fasilitas Kesehatan. TBC dapat juga mengenai organ tulang dan yang paling sering adalah TBC tulang punggung (spine). Teknologi robotic surgery yang berkembang saat ini dapat membantu dalam diagnosis TBC tulang.
TBC merupakan penyakit yang sangat terkait dengan kemiskinan dan pemukiman yang kurang sehat sehingga penanggulangannya sangat perlu keterlibatan masyakarat melalui Upaya Kesehatan berbasia masyarakat Bersama fasilitas Kesehatan tingkat primer dan seluruh perangkat daerah non-dinas Kesehatan. Diperlukan praktek baik kegiatan terkait penanggulangan TBC di tingkat masyarakat.
Kementerian Kesehatan telah melaunching 6 pilar Transformasi Bidang Kesehatan yang terdiri dari Transformasi Layanan Primer, Layanan Rujukan, Sistem Ketahanan Kesehatan, Sistem Pembiayaan Kesehatan, SDM Kesehatan, dan Teknologi Kesehatan. Tuberkulosis merupakan contoh baik untuk melihat suatu penyakit yang memerlukan kerja multipihak, baik di tingkat pusat (Kementerian Kesehatan) maupun daerah, dan penggunaan teknologi-teknologi baru yang dikembangkan melalui penelitian dan teknologi serta keterlibatan masyarakat. Penanggulangan TBC dapat dijadikan contoh dan terkait dengan 6 pilar Transformasi Bidang Kesehatan, mulai dari Layanan Primer hingga Teknologi Kesehatan.