Banjir Jabodetabek disebabkan hujan ekstrem
Hujan ekstrem dilaporkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terjadi sejak hari Senin malam (03/03) hingga Selasa dini hari (04/03) yang menjadi salah satu penyebab utama bencana banjir di Jabodetabek. Hujan kategori ekstrem itu tercatat mencapai 220 mm dalam 24 jam atau setara dengan volume hujan dalam satu bulan yang turun dalam satu hari saja.
Elshinta.com - Hujan ekstrem dilaporkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terjadi sejak hari Senin malam (03/03) hingga Selasa dini hari (04/03) yang menjadi salah satu penyebab utama bencana banjir di Jabodetabek. Hujan kategori ekstrem itu tercatat mencapai 220 mm dalam 24 jam atau setara dengan volume hujan dalam satu bulan yang turun dalam satu hari saja.
Dalam wawancara khusus di Radio Elshinta Rabu, 5 Maret 2024, Kepala BMKG Prof. Dwikorita Karnawati menerangkan, hujan ekstrem Jabodetabek disebabkan kondisi atmosfer dengan kelembaban tinggi 70-90 persen. Hal ini menyebabkan tumbuhnya awan hujan skala luas yang membuat pertumbuhan awan secara masif hingga menutup seluruh wilayah Jawa Barat. Selain itu juga terjadi belokan angin di utara wilayah Jakarta pada Senin malam hingga Selasa dini hari dan menyebabkan awan hujan bergerak ke arah Jakarta.
"Di satelit cuaca ada gumpalan awan hujan yang sekalanya sangat besar, hampir menutup seluruh wilayah Jawa Barat dan ada sebagian yang sampai ke Lampung hingga Bengkulu." tutur Dwikorita.
Selain faktor dari kondisi atmosfer, banjir yang melanda wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang tersebut diperparah dengan faktor lokal seperti topografi daerah yang rendah seperti wilayah Bekasi serta aliran sungai yang meluap karena tak sanggup menampung air serta minimnya wilayah serapan air.
Dwikorita menyebut, saat ini intensitas hujan perlahan menurun seiring pelemahan faktor cuaca dengan operasi modifikasi cuaca yang telah dilakukan sejak Selasa (04/03). Modifikasi cuaca tersebut direncanakan akan dilakukan oleh BMKG hingga 8 Maret 2025. Namun demikian, BMKG menyatakan tren peningkatan curah hujan akan kembali terjadi pada 10 hari kedua bulan Maret.
"Dari analisis klimatologi, kejadian kemarin adalah kejadian sepuluh hari pertama, kemudian akan melemah dan meningkat kembali di sepuluh hari kedua. Tanggal 11 sampai tanggal 20 akan meningkat lagi." papar Dwikorita.
Dwikorita menambahkan, pasca banjir Jabodetabek, curah hujan di wilayah Jakarta akan melemah namun akan meningkat kembali pada sepuluh hari kedua di bulan Maret. Kondisi ini akan berubah pada sepuluh hari terakhir bulan Maret dimana wilayah Jakarta akan mengalami tren penurunan intensitas hujan.
Penulis : Ashrofi