Interaksi Dubes RI: Tingkatkan diplomasi ekonomi dan pendidikan, peran strategis Dubes RI di Tunisia

Duta Besar RI untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, membahas strategi peningkatan diplomasi ekonomi, ekspor Indonesia, serta peran KBRI dalam meningkatkan kualitas pendidikan mahasiswa Indonesia di Tunisia.

Update: 2025-03-05 12:20 GMT

Elshinta.com - Dalam sebuah wawancara eksklusif, Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, menyoroti berbagai aspek penting dari perannya, termasuk upaya meningkatkan diplomasi ekonomi, ekspor Indonesia ke Tunisia, serta peningkatan kualitas pendidikan mahasiswa Indonesia di sana.

Diplomasi Ekonomi dan Peningkatan Ekspor Indonesia
Sejak menjabat sebagai Duta Besar di Tunisia selama kurang lebih empat tahun, Zuhairi Misrawi menekankan bahwa salah satu fokus utama KBRI adalah meningkatkan diplomasi ekonomi. Saat pertama kali tiba di Tunisia, nilai ekspor Indonesia ke negara tersebut berkisar di angka 100 juta USD. Berkat berbagai upaya diplomasi dan kerja sama perdagangan, angka tersebut kini telah meningkat menjadi 250 juta USD per tahun, atau naik hampir 150%.

Lebih jauh, Dubes Zuhairi mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia sedang dalam tahap finalisasi perjanjian perdagangan preferensial (Preferential Trade Agreement/PTA) dengan Tunisia. Penandatanganan PTA ini diharapkan berlangsung antara bulan Juni dan Juli tahun ini, setelah pembahasan dengan Kementerian Luar Negeri Tunisia. Jika disepakati, perdagangan antara Indonesia dan Tunisia berpotensi meningkat hingga 500 juta USD atau bahkan mencapai 1 miliar USD per tahun.

Sektor ekspor yang menjadi andalan Indonesia meliputi crude palm oil (CPO), furnitur, produk kimia, tekstil, kopi, beras, gula, hingga kendaraan bermotor. Salah satu sektor yang paling diminati di Tunisia adalah furnitur, yang bahkan berhasil menguasai 80% pangsa pasar. Menariknya, dari Tunisia, furnitur Indonesia juga diekspor ke berbagai negara Eropa seperti Italia, Prancis, Spanyol, Inggris, dan Jerman. Hal ini menunjukkan bahwa Tunisia bisa menjadi pintu masuk strategis bagi produk Indonesia ke pasar Eropa.

Strategi Ekspor dan Persaingan Global
Zuhairi menekankan bahwa kunci sukses dalam ekspor adalah ketersediaan barang dengan kualitas tinggi dan harga yang kompetitif. Ia mencontohkan bagaimana China, India, dan Turki mampu menguasai pasar ekspor karena mereka memiliki produksi yang kuat dan berkelanjutan. China, misalnya, mengekspor barang ke Tunisia senilai 2 miliar USD per tahun, sementara India sekitar 800 juta USD. Turki juga memiliki angka ekspor yang sama dengan China berkat kebijakan Presiden Erdogan yang sangat mendorong ekspor barang-barang produksi dalam negeri.

Dalam dunia fashion, misalnya, saat ini Turki dan Bangladesh telah menjadi pemain utama yang bahkan menyaingi Prancis dan Italia. Oleh karena itu, Zuhairi berharap bahwa industri fashion Indonesia, terutama dari Bandung, dapat lebih berkembang dan memanfaatkan peluang ekspansi ke Tunisia dan pasar Eropa.

Peran KBRI dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Mahasiswa Indonesia
Selain diplomasi ekonomi, Zuhairi juga menaruh perhatian besar pada pendidikan mahasiswa Indonesia di Tunisia. Ia menekankan bahwa mahasiswa yang dikirim harus memiliki kualitas akademik dan kemampuan bahasa yang baik, termasuk bahasa Arab, Inggris, dan Prancis. Beberapa pesantren di Indonesia, seperti Darul Qolam di Banten, Bina Insan Mulia di Cirebon, dan Al Kautsar, telah berperan dalam mempersiapkan calon mahasiswa dengan kemampuan bahasa yang mumpuni.

Di Tunisia, mahasiswa Indonesia bisa mendapatkan kuliah gratis dengan biaya hidup sekitar 5 juta rupiah per bulan. Bagi mereka yang kurang mampu, beasiswa bisa diperoleh melalui berbagai lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Lazisnu (Lembaga Amil Zakat Nahdlatul Ulama). Sementara itu, bagi mahasiswa yang mampu, orang tua diharapkan bisa mendukung biaya hidup mereka.

Sebagai seorang Duta Besar, Zuhairi juga aktif memastikan kesejahteraan mahasiswa Indonesia di Tunisia. Ia secara langsung turun tangan dalam mengurus izin tinggal, memberikan bantuan jika ada mahasiswa yang sakit, bahkan mengirim makanan dan dana bagi yang membutuhkan. Ia juga menjalin hubungan erat dengan para rektor di Tunisia agar dapat memantau kehadiran dan prestasi akademik mahasiswa Indonesia.

Saat ini, tingkat keberhasilan akademik mahasiswa Indonesia di Tunisia mencapai 80%, meskipun masih ada 20% yang perlu ditingkatkan. Zuhairi menekankan pentingnya fokus pada pendidikan dan disiplin belajar. Setiap kali periode ujian tiba, ia memastikan bahwa semua kegiatan lain dihentikan agar mahasiswa bisa fokus belajar. Baginya, ilmu adalah kunci untuk masa depan, baik dalam pengabdian kepada bangsa maupun keluarga.

Mempersiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
Dengan kepedulian yang tinggi terhadap mahasiswa Indonesia, Zuhairi yakin bahwa para mahasiswa yang sedang belajar di Tunisia saat ini akan menjadi pemimpin masa depan Indonesia. Ia berharap bahwa sistem yang telah diterapkannya—baik dalam aspek ekonomi maupun pendidikan—dapat terus berlanjut di masa yang akan datang.

"Indonesia harus hadir di dunia internasional, baik dalam bidang perdagangan maupun pendidikan. Saya ingin memastikan bahwa anak-anak kita yang berada di Tunisia mendapatkan perhatian yang layak agar mereka bisa sukses dan berkontribusi bagi bangsa," ungkapnya.

Dengan berbagai pencapaian dan visi strategis yang dimiliki, Zuhairi Misrawi telah menunjukkan bahwa peran seorang Duta Besar tidak hanya terbatas pada diplomasi politik, tetapi juga sebagai promotor ekspor nasional dan pembina generasi muda Indonesia di luar negeri.

Tags:    

Similar News