Ramadan di Tanah Haram: Tradisi masyarakat Mekah dan Madinah
Ramadan di Mekah, Ramadan di Madinah, tradisi Ramadan, suprah, buka puasa di Masjidil Haram, air zamzam, ibadah Ramadan, umrah Ramadan, persiapan haji, kebersamaan di tanah suci.
Elshinta.com - Ramadan adalah bulan suci yang selalu dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Namun, ada keistimewaan tersendiri ketika menjalani Ramadan di dua kota suci, Mekah dan Madinah. Tradisi masyarakat di sana mencerminkan kekhusyukan dan semangat dalam menjalankan ibadah selama bulan penuh berkah ini.
Suasana Ramadan di Mekah dan Madinah
Saat Ramadan tiba, suasana di Mekah dan Madinah berubah drastis. Jamaah umrah dari seluruh dunia berdatangan untuk mendapatkan keutamaan beribadah di dua kota suci ini. Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dipenuhi oleh umat Islam yang ingin melaksanakan shalat, membaca Al-Qur’an, dan beribadah sepanjang malam.
Kepadatan jamaah mencapai puncaknya terutama pada malam-malam terakhir Ramadan. Seperti yang disampaikan oleh Kepala Kantor Urusan Haji KJRI Jeddah, Dr. H. Nasrullah Jasam, suasana di dua masjid suci ini hampir menyerupai puncak haji. Akses kendaraan pribadi ke Masjidil Haram ditutup, sehingga jamaah harus menggunakan transportasi umum untuk menuju area masjid.
Tradisi Suprah: Berbagi Makanan untuk Berbuka
Salah satu tradisi unik di Mekah dan Madinah selama Ramadan adalah "suprah", yaitu pembagian makanan untuk berbuka puasa. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat setempat maupun jamaah yang ingin berbagi rezeki. Suprah ini biasanya berisi susu, roti, teh, kopi, serta kurma. Bahkan, di luar masjid, para dermawan menambahkan lauk seperti nasi, ayam, dan daging.
Setiap harinya, ribuan jamaah menikmati berbuka puasa bersama di pelataran Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Para penyedia makanan harus berkoordinasi dengan pihak pengelola masjid karena banyaknya jumlah orang yang ingin berbagi makanan.
Air Zamzam yang Melimpah
Salah satu hal yang paling dirindukan oleh umat Islam di seluruh dunia adalah kemudahan mengakses air zamzam di sekitar Masjidil Haram. Air zamzam yang tersedia di berbagai titik di dalam masjid dapat langsung diminum oleh para jamaah. Keberkahan air zamzam ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang beribadah di tanah suci.
Meningkatnya Ibadah dan Semangat Bersedekah
Selain ibadah wajib, jamaah di Mekah dan Madinah juga berusaha meningkatkan amalan sunah, seperti shalat tahajud, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah. Para penjaga keamanan atau askar masjid pun turut berpartisipasi dalam berbagi makanan dan minuman kepada jamaah.
Semangat berbagi dan kebersamaan terasa sangat kental di bulan Ramadan, di mana jamaah dari berbagai negara bertemu dan merasakan kebersamaan meski berasal dari latar belakang budaya yang berbeda.
Persiapan Haji Setelah Ramadan
Setelah Ramadan, pemerintah Arab Saudi langsung bersiap untuk menyelenggarakan ibadah haji. Seperti yang disampaikan oleh Dr. H. Nasrullah Jasam, setelah 1 Syawal, penerbitan visa umrah dihentikan agar fokus beralih ke penyelenggaraan haji. Penerbitan visa haji dimulai untuk memastikan kelancaran kedatangan jamaah haji ke tanah suci.
Ramadan di tanah haram adalah pengalaman yang luar biasa bagi setiap muslim. Dari berbuka puasa bersama hingga merasakan kemudahan akses air zamzam, semua mencerminkan semangat ibadah dan kebersamaan. Tradisi suprah menjadi salah satu contoh nyata bagaimana masyarakat di Mekah dan Madinah berlomba-lomba dalam kebaikan selama bulan suci ini. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang berbagi, meningkatkan ibadah, dan meraih keberkahan.