Ramadan di Istiqlal: Agama bukan sumber konflik, agama menjaga martabat setiap manusia
Agama bukanlah sumber konflik, melainkan pedoman untuk menjaga martabat manusia dan membangun harmoni sosial. Artikel ini membahas pentingnya toleransi sejati dan peran pendidikan agama dalam membentuk masyarakat yang damai dan bersatu.
Elshinta.com - Dalam kehidupan modern yang penuh tantangan, salah satu permasalahan yang sering muncul adalah kesalahpahaman mengenai agama. Banyak yang beranggapan bahwa agama menjadi sumber konflik, padahal sejatinya agama mengajarkan kedamaian, toleransi, dan menjaga martabat manusia. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bahwa agama bukanlah alat pemecah belah, melainkan perekat dalam kehidupan bermasyarakat.
Toleransi sering kali diucapkan dengan mudah, tetapi sulit untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian besar masyarakat baru mencapai tahap koeksistensi, yaitu hidup berdampingan tanpa saling mengganggu. Namun, toleransi sejati lebih dari sekadar hidup bersama tanpa konflik. Toleransi sejati adalah kesadaran bahwa meskipun berbeda dalam keyakinan, kita tetap memiliki ikatan kemanusiaan yang sama, seperti ukhuwah basyariah (persaudaraan sesama manusia) dan ukhuwah tarikhiah (persaudaraan sejarah).
Indonesia sebagai negara dengan beragam agama dan budaya memiliki persamaan historis, yakni pernah dijajah oleh bangsa asing. Kesamaan pengalaman ini seharusnya menjadi dasar persatuan dan bukan perpecahan. Dengan membangun toleransi sejati, bangsa ini akan semakin kuat dan tidak mudah terpecah belah.
Pendidikan agama memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir generasi muda. Oleh karena itu, Kementerian Agama menganjurkan guru-guru agama untuk mengajarkan nilai-nilai cinta dan titik temu antaragama, bukan menanamkan kebencian terhadap perbedaan. Jika sejak kecil seseorang dididik dengan pemahaman bahwa perbedaan adalah ancaman, maka ia akan tumbuh dengan sikap intoleran yang berpotensi memicu konflik.
Sebaliknya, jika pendidikan agama difokuskan pada ajaran yang menekankan persamaan nilai-nilai universal seperti kejujuran, keadilan, dan kesejahteraan, maka agama dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun solidaritas sosial. Semua agama sepakat bahwa pencurian, korupsi, perampokan, dan tindakan destruktif lainnya adalah hal yang dilarang. Oleh karena itu, nilai-nilai universal dalam agama dapat menjadi jembatan bagi persatuan umat manusia.
Agama dapat diibaratkan seperti energi nuklir. Jika digunakan dengan bijak, ia dapat menjadi sumber tenaga yang bermanfaat bagi kesejahteraan umat manusia, seperti pembangkit listrik tenaga nuklir yang efisien dan ramah lingkungan. Namun, jika disalahgunakan, agama dapat berubah menjadi alat penghancur yang memicu konflik dan kekerasan, sebagaimana nuklir juga bisa menjadi senjata pemusnah massal.
Oleh karena itu, kita harus memastikan bahwa agama dimanfaatkan sebagai energi positif yang menerangi kehidupan, bukan sebagai alat yang membahayakan keberlangsungan hidup bersama. Dengan menjadikan agama sebagai pendorong persatuan dan kesejahteraan, kita dapat menciptakan dunia yang lebih harmonis dan damai.
Agama bukanlah sumber konflik, tetapi justru menjadi pedoman bagi manusia untuk hidup dalam harmoni dan menjaga martabat sesama. Dengan membangun toleransi sejati, mendidik generasi muda dengan ajaran cinta dan perdamaian, serta memanfaatkan agama sebagai kekuatan positif, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih solid dan beradab. Semoga dengan kesadaran ini, kita bisa menjadikan agama sebagai sumber cahaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.