Upaya baru menyatukan intelektualitas dan kedamaian batin

Di tengah dunia yang semakin terbelah oleh perbedaan agama, identitas, dan krisis makna hidup, sebuah langkah revolusioner datang dari komunitas Esoterika Forum Spiritualitas

Update: 2025-04-14 06:55 GMT
Sumber foto: Radio Elshinta/ Rizky Rian Saputra

Elshinta.com - Di tengah dunia yang semakin terbelah oleh perbedaan agama, identitas, dan krisis makna hidup, sebuah langkah revolusioner datang dari komunitas Esoterika Forum Spiritualitas. Tiga buku baru yang menyoroti pentingnya spiritualitas universal kini secara resmi masuk ke dalam kurikulum enam perguruan tinggi lintas iman di Indonesia.

 

Buku-buku tersebut merupakan karya pemikiran Denny JA, bersama Ahmad Gaus AF dan Budhy Munawar-Rachman. Masing-masing membawa narasi kuat tentang bagaimana spiritualitas dapat menjadi penuntun baru dalam era yang kian didominasi oleh teknologi dan fragmentasi sosial.

 

Inisiatif ini diawali dengan workshop intensif pada April 2025, yang menghadirkan 25 akademisi senior bergelar doktor dan profesor dari berbagai kepercayaan seperti Islam, Buddha, Kristen, Katolik, dan Hindu. Kegiatan ini menjadi tonggak awal bahwa kampus tidak hanya menjadi pusat nalar kritis, tapi juga ruang yang menghidupkan dimensi batiniah mahasiswa.

 

“Inilah saatnya spiritualitas tidak hanya menjadi urusan personal atau ritual semata. Kami ingin mengajak kampus tidak hanya menjadi ruang intelektual, tapi juga ruang batin yang menyejukkan,” ujar Denny JA, penulis utama dan penggagas konsep tersebut.

 

Ketiga buku yang dijadikan materi ajar adalah: 1. “10 Prinsip Spiritual yang Universal: Dari Agama Sebagai Warisan Kultural Milik Kita Bersama” – menyajikan panduan nilai-nilai spiritual yang melampaui batas agama formal.

 

2. “Sosiologi Agama di Era Artificial Intelligence: 7 Prinsip” – mengupas bagaimana teknologi dan kecerdasan buatan mengubah lanskap keagamaan dan spiritualitas manusia modern.

 

3. “Agama sebagai Warisan Kultural Milik Bersama” – menggali pentingnya memahami agama sebagai warisan budaya kolektif yang patut dihormati tanpa eksklusivitas.

 

Pemikiran Denny JA dalam ketiga karya ini menekankan perlunya spiritualitas universal sebagai kompas batin di tengah banjir informasi yang sering kali hampa makna. Ia melihat spiritualitas bukan sebagai milik agama tertentu, melainkan sebagai kebutuhan biologis, mental, dan sosial manusia modern.

 

 “Pertama, untuk memberi arah di tengah limpahan informasi yang sering kali tanpa makna. Kedua, untuk membangun kompas batin agar manusia modern dapat berjalan lebih bijak. Dan ketiga, untuk menyatukan dunia yang semakin retak karena perbedaan identitas,” jelasnya.

 

Langkah membawa gagasan spiritual ke dalam ruang akademik ini bukan hanya inovatif, tapi juga relevan. Di saat banyak kampus sibuk mengejar capaian intelektual, gerakan ini mengingatkan pentingnya keseimbangan antara pengetahuan dan kebijaksanaan batin.

 

Dengan masuknya pemikiran ini ke kampus, diharapkan lahir generasi baru yang tidak hanya cerdas secara logika, tapi juga matang secara emosional dan spiritual.

 

“Kami percaya bahwa dengan memperkenalkan spiritualitas universal ke dalam kurikulum kampus, kita dapat menumbuhkan generasi yang bukan hanya pintar secara akademik, tetapi juga bijaksana secara emosional dan spiritual,” tutup Denny, seperti yang dilaporkan Reporter Elshinta Rizky Rian Saputra.

Tags:    

Similar News