Gubernur Jabar minta evaluasi tata ruang, sawah Bekasi harus jadi wisata estetik
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan pentingnya evaluasi tata ruang wilayah secara menyeluruh.
Elshinta.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan pentingnya evaluasi tata ruang wilayah secara menyeluruh. Ia prihatin dengan banyaknya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan non-produktif, terutama di wilayah perkotaan dan industri seperti Kabupaten Bekasi.
"Kami akan segera melakukan evaluasi tata ruang. Banyak sawah yang berubah fungsi. Ini tidak boleh dibiarkan," ujar Gubernur Dedi dalam kunjungannya ke Bekasi, Kamis (22/5).
Ia menegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mengeluarkan Peraturan Gubernur yang melarang alih fungsi lahan dari area pertanian, hutan, perkebunan, hingga perairan ke fungsi yang tidak sesuai peruntukan tata ruang.
“Peraturan ini wajib dipatuhi. Kita harus menjaga ruang terbuka hijau, lahan pertanian, dan ekosistemnya agar tetap lestari,” tegasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Hamzah Aryanto, Kamis (22/5).
Selain menyoroti alih fungsi lahan, Gubernur Dedi juga meminta Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi untuk memperbanyak mesin potong rumput di tiap desa.
Ia menilai rumput liar di pinggir jalan mengganggu keindahan dan bisa dimanfaatkan untuk menciptakan kawasan wisata berbasis pertanian.
“Saya lihat di sepanjang jalan di Bekasi rumputnya tinggi-tinggi. Itu harus dipotong. Orang Bekasi butuh hiburan, perlu rekreasi. Kalau rumput dipotongin, memperlihatkan area sawah. Kita bat lebih estetik nanti,” ungkapnya.
Ia menilai, Kabupaten Bekasi dapat menjadi wisata alam yang ramah wisata.
“Semua bisa lebih estetik dan ramah wisata, antara lain dengan merapikan jalan, memasang lampu penerangan, dan menjaga pemandangan tetap terbuka,” paparnya.
“Kalau jalan dihaluskan, lampu dipasang, dan rumput dipotong, sawah bisa jadi tempat wisata yang indah. Jadi masyarakat Bekasi tidak perlu lagi pergi jauh-jauh untuk liburan,” sambungnya.
Menurut Dedi, kondisi Bekasi yang berubah menjadi kawasan industri telah menghilangkan banyak ruang hijau, sehingga masyarakat kini kekurangan ruang rekreasi alami.
“Kita harus kembalikan suasana terbuka. Kalau kawasan sekitar sawah tertata dengan baik, orang Bekasi bisa berlibur di daerahnya sendiri, tidak perlu keluar kota,” pungkasnya.
Langkah ini diharapkan tak hanya melindungi lahan produktif, tapi juga mengangkat potensi wisata pedesaan dan mendongkrak ekonomi lokal.