KemenP2MI-Kemenparekraf dorong branding terapis spa mendunia

 Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) melakukan kerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk membangun identitas merek (branding) bagi profesi terapis spa yang bekerja di luar negeri.

Update: 2025-06-12 14:52 GMT
Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Christina Aryani dan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, di Jakarta, Rabu (11/6/2025). Foto: BP2MI

Elshinta.com - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) melakukan kerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk membangun identitas merek (branding) bagi profesi terapis spa yang bekerja di luar negeri.

Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Christina Aryani, menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi terapis spa asal Indonesia di pasar global.

“Kami ingin terapis spa Indonesia dikemas lebih baik. Harus ada brand yang kuat agar mereka punya nilai jual yang membedakan dari negara lain. Untuk itulah kami menggandeng Kementerian Ekonomi Kreatif,” ujarnya usai bertemu dengan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, di Jakarta, Rabu (11/6/2025).

Pertemuan tersebut menjadi kelanjutan dari diskusi sebelumnya yang telah dilakukan Christina bersama Menteri Ekonomi Kreatif dalam forum International Conference on Infrastructure (ICI) 2025 di Jakarta International Convention Centre.

“Tadi kami sudah bertukar ide, brainstorming soal bagaimana mengemas terapis spa Indonesia agar punya daya saing global,” katanya.

Christina mencontohkan bagaimana negara lain telah sukses membangun identitas khas di sektor spa: Thailand dengan Thai Massage, Jepang dengan Shiatsu, dan India dengan Pijat Ayurveda. Menurutnya, Indonesia pun memiliki potensi untuk mengangkat keunikan sendiri.

“Kita harus punya kekhasan yang bisa dijual. Tidak cukup hanya mengandalkan keramahan, kompetensi dan diferensiasi juga penting. Nilai jual ini perlu diperkuat melalui inovasi seperti penggunaan aromaterapi lokal atau ramuan tradisional khas Indonesia,” tegasnya.

Gagasan ini juga merupakan hasil dari rangkaian kunjungan kerja Christina ke berbagai sekolah terapis spa di Bali serta masukan dari para duta besar terkait kebutuhan pasar luar negeri.

“Saya senang karena Kemenparekraf menyambut baik gagasan ini. Mereka melihat peluang ini tidak hanya untuk peningkatan penempatan pekerja migran, tapi juga mendukung kinerja ekonomi kreatif nasional,” pungkas Christina.

Dengan sinergi lintas kementerian, diharapkan profesi terapis spa asal Indonesia tak hanya hadir sebagai tenaga kerja, tetapi juga sebagai duta budaya dan identitas bangsa di kancah internasional.

Penulis: Rizky Rian Saputra/Ter

Tags:    

Similar News