Indonesia serukan pesan kepada dunia akhiri Malaria

Pemerintah Republik Indonesia, bekerja sama dengan Asia Pacific Leaders Malaria Alliance (APLMA), dengan bangga menjadi tuan rumah 9th Asia Pacific Leaders' Summit on Malaria Elimination yang diselenggarakan pada 16 hingga 17 Juni 2025 di Bali, Indonesia.

Update: 2025-06-17 16:21 GMT
Foto: Eko Sulestyono/Radio Elshinta

Elshinta.com - Pemerintah Republik Indonesia, bekerja sama dengan Asia Pacific Leaders Malaria Alliance (APLMA), dengan bangga menjadi tuan rumah 9th Asia Pacific Leaders' Summit on Malaria Elimination yang diselenggarakan pada 16 hingga 17 Juni 2025 di Bali, Indonesia.

Mengusung tema ‘Bersatu dalam Aksi Menuju Nol Malaria’, pertemuan tahunan ini mempertemukan para pemimpin politik, pakar, dan pemangku kepentingan untuk menegaskan kembali komitmen bersama dalam mengeliminasi malaria di kawasan Asia Pasifik pada tahun 2030.

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ini berfokus pada tiga hal utama, yaitu kepemimpinan politik yang kuat, peningkatan kerja sama regional, dan pendanaan yang berkelanjutan. 

Acara ini dihadiri Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, selaku Penasihat Khusus APLMA, serta Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin selaku tuan rumah.

Lebih dari 250 peserta dari negara di wilayah kawasan maupun dunia acara ini, termasuk para menteri kesehatan dari Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Timor-Leste, Vanuatu, Laos, dan Pakistan.

Sejumlah tokoh kesehatan global seperti Dr. Saia Ma’u Piukala (Direktur Regional WHO untuk Pasifik Barat), Christopher Elias (Presiden Pembangunan Global dari Gates Foundation), dan Peter Sands (Direktur Eksekutif Global Fund).

Turut hadir pula sejumlah pejabat tinggi pemerintah, direktur program malaria nasional, dan para pakar teknis lainnya, menunjukkan persatuan dalam upaya memerangi malaria.

Dalam KTT ini, Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono bersama Menteri Budi secara resmi meluncurkan Indonesia’s Call to End Malaria Initiative atau Seruan Indonesia untuk Mengakhiri Malaria. 

“Inisiatif ini merupakan pilar utama komitmen Indonesia dalam mempercepat eliminasi malaria, sekaligus strategi inovatif untuk mengoptimalkan peran lintas sektor dalam mempercepat upaya eliminasi malaria,” kata Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin, Selasa (17/6), seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Eko Sulestyono.

Inisiatif Indonesia ini dirancang sebagai mekanisme sentral untuk menyelaraskan upaya di semua tingkatan pemerintah nasional, provinsi, dan kabupaten/kota dalam menghadapi tantangan koordinasi, khususnya di wilayah kompleks seperti Papua.
 
Dengan melibatkan berbagai kementerian kunci, seperti kesehatan, keuangan, dalam negeri, perencanaan pembangunan, dan pertahanan, serta BUMN, LSM, tokoh masyarakat, dan sektor swasta, Inisiatif Indonesia ini mendorong pendekatan kolaboratif dan multisektor untuk menanggulangi malaria.

Inisiatif ini memiliki mandat untuk penyederhanaan koordinasi dan memastikan implementasi yang efektif di seluruh tingkatan pemerintahan.

Langkah tegas ini sebagai bentuk komitmen Indonesia yang kuat dalam memberantas malaria di dalam negeri maupun kawasan, sekaligus membangun fondasi bagi kemitraan yang berdampak luas di Asia Pasifik.

Di sela-sela KTT, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk memimpin forum tingkat tinggi bersama para gubernur di Papua untuk membahas tantangan kesehatan yang unik di wilayah tersebut, yang diperparah oleh kondisi sosial ekonomi yang kompleks.

Forum ini menghasilkan Penandatanganan Komitmen Gubernur serta dukungan atas pembentukan Konsorsium Malaria Papua, yang menyatukan para gubernur Papua dan pemangku kepentingan multisektor dalam strategi yang lebih terarah untuk mempercepat eliminasi malaria di Papua.

Guna memperkuat semangat kolaboratif yang ditekankan selama pertemuan ini, Indonesia dan Papua Nugini mempererat komitmen mereka melalui inisiasi Bilateral Joint Action Plan atau Rencana Aksi Bersama Bilateral. 

Kerangka strategis ini ditujukan untuk meningkatkan kerja sama lintas batas, memastikan upaya penanggulangan malaria dilakukan secara selaras oleh kedua negara dengan menjunjung tinggi asas resiprositas, kesetaraan, dan saling menguntungkan.

KTT ini juga menekankan pentingnya strategi inovatif untuk memperkuat sistem kesehatan dan memobilisasi sumber daya yang adil, guna memastikan pendekatan terpadu dalam memberantas malaria di Asia Pasifik.

Hari pertama acara diisi oleh sesi teknis bersama pakar nasional dan internasional yang membahas bukti terbaru, inovasi, serta strategi pengendalian dan eliminasi malaria.

Hari kedua, digelar dialog tingkat tinggi antarmenteri dan pertemuan mitra dalam kerangka EDEN Initiative (Eliminating Malaria and other Vector-Borne Diseases through Enhanced Regional Partnerships) untuk membahas peluang pembiayaan bersama dan pengembangan paket pendanaan berkelanjutan berbasis multi-sumber.

Dalam sambutan pembukaannya, Menteri Kesehatan yang Terhormat, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan malaria bukan sekadar isu kesehatan, ini merupakan persoalan pembangunan. 

Untuk benar-benar mengeliminasi malaria, kita harus melampaui sektor kesehatan. Itulah sebabnya Indonesia meluncurkan ‘Indonesia’s Call to End Malaria Initiative’ untuk menggerakkan dukungan dari seluruh elemen, baik pemerintah maupun masyarakat.

“Melalui kepemimpinan yang lebih kuat dan koordinasi yang lebih baik, kita akan menghadirkan solusi yang berkelanjutan bagi wilayah-wilayah yang paling terdampak, khususnya Papua,” kata Budi Gunadi Sadikin.

Sementara itu, Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutan pidatonya menekankan pentingnya kolaborasi regional 

“Dengan waktu yang hanya tersisa lima tahun untuk mencapat target global SDGs guna eliminasi malaria pada 2030, KTT Pemimpin Asia Pasifik ke-9 telah menjadi wadah strategis untuk memperlihatkan kemajuan kawasan, inovasi, serta pembaruan komitmen,” kata Susilo Bambang Yudhoyono.

APLMA dan Pemerintah Indonesia bersama para menteri kesehatan, pemimpin kesehatan global, serta para pakar yang hadir, menegaskan kembali komitmen untuk memperkuat ketahanan kesehatan kawasab dan mempercepat tercapainya Asia Pasifik bebas malaria.

Tags:    

Similar News