Overload, tahun depan Pemkot Magelang bangun TPSA Regional di Bandongan
Tempat Pembuangan sampah (TPA) Kota Magelang yang berada di Desa Banyuurip Kecamatan Tegalrejo sudah overload, sehingga diharapkan tahun 2026, TPSA Regional sudah mulai dibangun dan mulai operasional di tahun 2027. TPSA ini nantinya akan dibangun di Kecamatan Bandongan dengan luasan mencapai 100 hektar.
Elshinta.com - Tempat Pembuangan sampah (TPA) Kota Magelang yang berada di Desa Banyuurip Kecamatan Tegalrejo sudah overload, sehingga diharapkan tahun 2026, TPSA Regional sudah mulai dibangun dan mulai operasional di tahun 2027. TPSA ini nantinya akan dibangun di Kecamatan Bandongan dengan luasan mencapai 100 hektar.
"Menggunungnya tumpukan sampah di TPA Banyuurip karena pengelolaan baru diuruk dan diperpanjang masa pakainya," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Magelang Muhammamd Yunus, di sela-sela kegiatan Ekspo Lingkungan Hidup yang berlangsung di Alun-alun setempat, Rabu (18/6/2025).
Yunus mengatakan, apabila TPSA regional sudah beroperasi maka sampah organik dan anorganik bisa diolah di tempat menjadi Refuse Derifed Fueal (RDF) atau untuk bahan bakar alternatif. Apabila sudah ada pengelolaan yang demikian, maka diharapkan volume sampah sedikit demi sedikit bisa dikurangi volumenya.
Sebagai upaya mengurangi volume sampah, pemerintah dengan masyarakat bergerak bersama untuk mengelola sampah dan berkelanjutan. Dengan harapan, generasi penerus akan mulai membiasakan diri mengelola sampah dan menjadi generasi yang sehat.
Yunus menyebut, volume sampah di kota Magelang saat ini mencapai 70-80 ton perhari. Dari jumlah itu, 75 persen merupakan sampah organic dan sisanya anorganik dan residu. Sjeauh ini, pihaknya baru mampu mengolah dan mengelola sampah anorganik untuk dikelola di bank sampah. Caranya dijual langsung atau didaur ulang. "Masih menjadi PR Pemkot adalah mengolah sampah anorganik," ujarnya.
Disisi lain, Yunus juga menyampaikan bahwa kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah rumah tangga cukup tinggi. Seiring dengan banyaknya bank sampah yang terbentuk, meskipun yang aktif baru 60 dari 99 bank sampah yang ada. Sedangkan untuk kampung iklim, seluruh kelurahan sudah memilikinya.
Sementara itu, Ekspo Lingkungan Hidup dibuka langsung oleh Sekda Kota Magelang Hamzah Kholifi mewakili Walikota Magelang. Dalam kesempatan itu, Sekda mengajak kepada masyarakat untuk lebih peduli pada lingkungan, salah satunya dengan tidak memproduksi sampah plastik atau stop sampah plastik.
Ia berharap, perilaku ramah lingkungan bisa dimulai dari diri sendiri dan keluarga."Stop sampah plastic, lebih baik pakai tumbler kalua ingin minum. Jadi tidak 'nyampah' plastic," imbaunya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Kurniawati, Rabu (18/6).
Ekspo Lingkungan Hidup merupakan puncak acara Hari Lingkungan Hidup yang diadakan Kantor DLH Kota Magelang. Acara yang berlangsung sehari ini, mendapat perhatian cukup luas dari masyarakat terutama pelajar.
Dalam ekspo ada stand khusus untuk menukarkan sampah plastik dengan mie instan dan sabun cuci piring. Masyarakat baru bisa mendapatkan empat bungkus dan sabun cuci piring setelah menukarkan sebanyak 60 botol air mineral. Stand yang di Kelola Bank sampah Induk ini, cukup diminati warga. Terbukti, banyak warga yang antusias membawa sampah botol untuk ditukarkan dengan mie instan dan sabun cuci piring.