Jangkar ajak seluruh pihak wujudkan kolaborasi untuk jaga laut Indonesia
Sebagai salah satu destinasi wisata bahari terbaik dunia, Raja Ampat menjadi aset nasional dan warisan dunia yang tidak ternilai harganya. Keindahan bawah lautnya, keanekaragaman hayati laut, dan peran pentingnya dalam ekosistem laut global menjadikannya kawasan strategis yang harus dijaga kelestariannya, tidak hanya untuk hari ini tetapi juga untuk generasi yang akan datang.
Elshinta.com - Sebagai salah satu destinasi wisata bahari terbaik dunia, Raja Ampat menjadi aset nasional dan warisan dunia yang tidak ternilai harganya. Keindahan bawah lautnya, keanekaragaman hayati laut, dan peran pentingnya dalam ekosistem laut global menjadikannya kawasan strategis yang harus dijaga kelestariannya, tidak hanya untuk hari ini tetapi juga untuk generasi yang akan datang.
Jaringan Kapal Rekreasi (Jangkar) dengan dukungan Konservasi Indonesia dan BLUD Raja Ampat,
menggelar kampanye bertemakan “Menjaga Konservasi Raja Ampat untuk Generasi Kini dan Mendatang”. Kampanye ini menyerukan ajakan kepada seluruh pemangku kepentingan yakni pemerintah, pemda, pelaku usaha pariwisata, masyarakat lokal, dan wisatawan untuk bersama - sama menjaga kelestarian kawasan konservasi perairan Raja Ampat dan seluruh wilayah perairan Indonesia.
Saat ini kawasan konservasi perairan Raja Ampat menghadapi ancaman serius dari praktik destructive fishing, pencemaran laut, dan pembuangan sampah yang dapat merusak ekosistem sensitif seperti terumbu karang, mangrove, dan padang lamun. Oleh karena itu, kapal-kapal anggota JANGKAR yang kini berjumlah lebih dari 90 unit siap menjadi garda terdepan dalam kampanye perlindungan perairan, mulai dari edukasi wisatawan hingga pengawasan lapangan.
Penasihat Jaringan Kapal Rekreasi (JANGKAR) Aji Sularso mengatakan bahwa dalam menjaga laut bukan menjadi tanggung jawab pemerintah, namun menjadi tanggung jawab bersama. Hal ini disampaikannya dalam konferensi pers di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, Rabu (18/06/2025).
“Kami menyadari bahwa menjaga laut bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab
bersama. JANGKAR sebagai pelaku industri wisata bahari berkomitmen aktif dalam menjaga keberlanjutan kawasan konservasi, dimulai dari hal sederhana seperti praktik pelayaran ramah lingkungan, edukasi kepada tamu, hingga pelaporan aktivitas ilegal di laut,” ujar Aji Sularso.
Kampanye ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah,
pelaku usaha, organisasi konservasi, dan masyarakat lokal dalam menciptakan gerakan nyata yang berdampak. Selain itu, sinergi antar pihak diperlukan untuk mengatasi tantangan konservasi yang semakin
kompleks.
Sementara itu, Direktur Konservasi Ekosistem dan Biota Perairan Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Firdaus Agung mengatakan bahwa 67,35 persen Dive site atau lokasi atau tempat di dalam air, baik laut, danau, maupun kolam, yang menjadi tujuan kegiatan menyelam (diving) di Indonesia adalah kawasan konservasi. Selain itu peta diving tourism di Indonesia sebanyak 80 persennya adalah kawasan konservasi.
"Yang menarik baru sekali ya, 67,35 persen dari 27.000 sekian dive site tadi adalah kawasan konservasi. Nah kalau kita sekarang lihat di peta diving tourism di Indonesia itu juga hampir 80-90 persen adalah kawasan konservasi. Dan semua diving tourism site yang terkenal di dunia dan di Indonesia adalah kawasan konservasi," ujarnya.
Direktur BLUD UPTD Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Raja Ampat, Syafri, juga mengapresiasi inisiatif JANGKAR sebab kapal wisata tidak hanya sebagai alat transportasi namun menjadi bagian agen perubahan kelestarian laut.
"Kami menyambut baik inisiatif JANGKAR kapal wisata bukan hanya alat transportasi, tapi juga bisa menjadi agen perubahan dalam pelestarian laut,"terangnya.
Dengan semangat kolaborasi dan kesadaran bersama, JANGKAR berharap kampanye ini menjadi langkah
awal dari gerakan nasional menjaga konservasi laut Indonesia demi masa depan yang berkelanjutan dan sejahtera.
Penulis : Hutomo Budi