Konflik Iran-Israel, Menteri Maman tegaskan prioritas lindungi UMKM

Elshinta.com - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Maman Abdurrahman menegaskan bahwa kementeriannya akan tetap fokus pada perlindungan dan penguatan UMKM dalam negeri di tengah kekhawatiran global akibat konflik antara Iran dan Israel.

Update: 2025-06-24 19:43 GMT
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Maman Abdurrahman (tengah) dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (24/6/2025). (ANTARA/Shofi Ayudiana)

Elshinta.com - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Maman Abdurrahman menegaskan bahwa kementeriannya akan tetap fokus pada perlindungan dan penguatan UMKM dalam negeri di tengah kekhawatiran global akibat konflik antara Iran dan Israel.

Menurut dia, fokus terhadap penguatan UMKM melalui pemberdayaan dan perlindungan menjadi pondasi kuat bagi sektor ini dalam menghadapi berbagai dinamika, baik dari dalam negeri maupun dampak dari gejolak global.

"Tentunya kalau dari sisi UMKM, apapun situasi global yang terjadi, bagi kami, prioritas utama adalah melakukan pemberdayaan, perlindungan, serta optimalisasi penggunaan produk-produk UMKM di Indonesia," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

Lebih lanjut, Maman menjelaskan meskipun rencana pembentukan Satuan Tugas (Satgas) perlindungan UMKM oleh Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan masih dalam pembahasan, upaya perlindungan dan pemberdayaan UMKM sudah berjalan intensif.

Sebagai bentuk konkret dari komitmen tersebut, dia menyebut Kementerian UMKM telah meluncurkan Festival Perlindungan dan Pemberdayaan UMKM. Festival ini kini telah menyentuh tiga titik dari target 18 provinsi di seluruh Indonesia.

Konflik antara Iran dan Israel terus memanas setelah serangan militer Israel, yang didukung AS, pada 13 Juni lalu, memicu balasan dari Teheran.

Para ahli memperingatkan bahwa eskalasi ini berpotensi mengguncang ekonomi global, termasuk Indonesia.

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah kemungkinan Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi sebagian besar pasokan minyak dunia.

Jika ini terjadi, harga minyak dunia akan melonjak tajam, yang secara langsung akan memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia.

Peningkatan harga minyak akan biaya impor minyak dan subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah membengkak untuk menjaga harga BBM tetap stabil di dalam negeri.

Selain itu, ketegangan yang memanas di Timur Tengah berpotensi mengganggu ekspor Indonesia.

Konflik ini bisa memicu masalah pada jalur pelayaran internasional, menyebabkan penundaan pengiriman barang, naiknya biaya asuransi kargo, atau bahkan potensi penurunan permintaan global.

Menteri Perdagangan Budi Santoso, di Yogyakarta, Jumat (20/6), menyatakan, pemerintah telah menyiapkan pasar alternatif untuk menjaga stabilitas ekspor di tengah ketidakpastian global yang dipicu oleh konflik Iran-Israel.

Menurut Budi, berbagai perundingan perdagangan strategis telah diselesaikan guna memperluas akses ekspor ke kawasan non-tradisional.

Langkah-langkah tersebut mencakup penandatanganan perjanjian dagang, seperti Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA), Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Area (I-EAEU FTA), serta perjanjian dagang dengan Tunisia.

Budi menjelaskan bahwa ini adalah bentuk antisipasi pemerintah terhadap potensi gangguan pasokan atau penurunan permintaan dari pasar yang mungkin terdampak konflik.

Tags:    

Similar News