Oknum relawan diduga intimidasi jurnalis akhirnya minta maaf
Dugaan intimidasi dialami sejumlah jurnalis di Kudus saat meliput evakuasi pendaki yang ditemukan tewas di Puncak Natas Angin Pegunungan Muria, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Rabu (25/6).
Elshinta.com - Dugaan intimidasi dialami sejumlah jurnalis di Kudus saat meliput evakuasi pendaki yang ditemukan tewas di Puncak Natas Angin Pegunungan Muria, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Rabu (25/6). Sejumlah awak media mendapatkan intimidasi dan sikap arogan dari oknum relawan yang meminta menghapus rekaman di kamera maupun handphone disertai ancaman akan membanting handphone mereka.
Buntut kejadian ini, sebanyak 33 wartawan dari berbagai media yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kudus dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) mendatangi kantor BPBD Kabupaten Kudus untuk mediasi dengan relawan yang bersangkutan, Kamis (26/6). Puluhan wartawan yang sehari-hari menjalankan peliputan di Kudus dan sekitarnya ini meminta klarifikasi dari relawan tersebut.
Relawan dari LPBI NU bernama Muhammad Mukhlis akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada sejumlah jurnalis yang diintimidasi. Ia mengaku jika ulahnya tersebut dipicu oleh permintaan keluarga yang tidak mengizinkan pengambilan gambar jadi ia berinisiatif melakukan tindakan tersebut mendatangi sejumlah wartawan mengertak dan meminta menghapus video.
Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Muria Raya, Iwhan Miftakhudin, mengatakan kejadian ini bermula saat para jurnalis berkumpul di posko pendakian Natas Angin, para jurnalis tiba-tiba didatangi oknum relawan untuk melarang wartawan mengambil gambar dan meminta menghapus dengan kasar dan arogan.
\"Hari ini kita ingin mendengarkan alasan dari relawan tersebut atas sikapnya kemarin. Karena saat dilapangan teman-teman jurnalis sudah tau batasan dan aturan peliputan sebab hasil teman-teman jurnalis merupakan produk yang bisa dipertanggungjawabkan sesuai UU Pers. Mungkin tidak bisa dipungkiri kalau sekarang itu banyak media sosial yang bisa dengan mudah mengunggah hasil video atau foto mereka," katanya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini, Kamis (26/6).
Iwhan menambahkan kejadian ini menjadi pembelajaran semua pihak termasuk juga teman-teman jurnalis. Namun yang pasti komunikasi itu penting sehingga tidak akan ada lagi kejadian seperti ini apalagi wartawan bagian terpenting dalam memberikan terkait kebencanaan dan juga mengedukasi masyarakat.
Ketua PWI Kabupaten Kudus Saiful Annas menyampaikan jika komunikasi itu penting ketika dilapangan jadi kalau memang ada alasan permintaan keluarga korban untuk tidak mengambil gambar harusnya diberi tahu secara baik-baik sehingga para jurnalis yang meliput tidak rugi tidak dapat berita.
"Kami menyayangkan kenapa wartawan tidak boleh mengambil gambar padahal wartawan itu ada UU yang mengatur saat peliputan, sementara para relawan dengan seenaknya meng"share" foto dan video kemana-mana termasuk di medsos," keluhnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Kudus Mundir yang menjadi fasilitator dalam mediasi menyampaikan permintaan maaf atas kejadian kemarin. Pihaknya mengundang kedua belah pihak karena BPBD sebagai induk dari organisasi relawan. Apalagi kegiatan kemarin juga terkait operasi SAR gabungan jadi pihaknya ikut bertanggung jawab meski relawan tersebut berasal dari organisasi lain.
Ketua LPBI NU Suqron Haryanto menyampaikan jika kejadian ini menjadi pembelajaran para relawan agar kedepannya ketika ada kejadian bencana agar dapat bersinergi dan bekerjasama.