Seribu Bayang Purnama, sebuah film tentang problematika petani Indonesia

Film 'Seribu Bayang Purnama' menjadi film layar lebar pertama yang mengangkat sepenuhnya problematika para petani di pedesaan masa kini. Film ini diproduksi oleh Baraka Films dan disutradarai oleh Yahdi Jamhur.

By :  Widodo
Update: 2025-06-27 10:11 GMT
Film yang akan tayang serentak mulai 3 Juli 2025 di jaringan bioskop nasional XXI, CGV, Cinepolis ini, menceritakan tentang kesulitan para petani memperoleh modal untuk mengolah lahan mereka, akibat mahalnya harga pupuk dan pestisida kimia. (foto: ist)

Elshinta.com - Jakarta - Film "Seribu Bayang Purnama" menjadi film layar lebar pertama yang mengangkat sepenuhnya problematika para petani di pedesaan masa kini. Film ini diproduksi oleh Baraka Films dan disutradarai oleh Yahdi Jamhur.

Film yang akan tayang serentak mulai 3 Juli 2025 di jaringan bioskop nasional XXI, CGV, Cinepolis ini, menceritakan tentang kesulitan para petani memperoleh modal untuk mengolah lahan mereka, akibat mahalnya harga pupuk dan pestisida kimia. 

Hal ini, membuat para petani terperosok ke dalam jeratan para rentenir yang menerapkan bunga pinjaman selangit.

Yahdi Jamhur, yang juga founder Baraka Films mengatakan, keinginan membuat film Seribu Bayang Purnama, dipicu oleh tantangan dan dukungan penuh dari Produser eksekutif film ini, Joao Mota, seorang petani muda dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berhasil mempelopori Metode Tani Nusantara.

"Nasib para petani yang kurang beruntung inilah yang menginspirasi saya untuk mengangkat kegelisahan mereka ke dalam sebuah film, dengan harapan masyarakat luas dapat lebih memahami cerita para petani. Karena para petani inilah yang menjadi tiang utama atau tulang punggung pengadaan pangan secara nasional," ujar sutradara film Seribu Bayang Purnama, Yahdi Jamhur saat gala premiere dan konferensi pers di Jakarta, Kamis (26/06/2025).

Keinginan membuat film ini dipicu oleh tantangan dan dukungan penuh dari produser eksekutif film Joao Mota seorang pegiat pertanian alami dan sosok yang sangat peduli dengan pertanian serta nasib petani Indonesia yang datang membawa ide cerita, kisah sukses seorang petani muda di Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil mempelopori metode tani Nusantara, sebuah metode pertanian alami yang mudah, murah dan sederhana.

"Dengan menerapkan metode ini, para petani tidak perlu lagi bergantung pada para rentenir dan pupuk pestisida pabrikan berbahan baku kimia yang harganya cukup mahal serta bisa menekan biaya pertanian hingga 80 kali," katanya.

Namun menurut Yahdi, untuk menerapkan metode ini tentu tidak mudah. Perjuangan para perintis metode pertanian alami pastinya mendapatkan perlawanan keras dari juragan penjual pupuk kimia pabrikan, yang digambarkan dalam film Seribu Bayang Purnama. Konflik antara pejuang tani alami dengan juragan pupuk pabrikan, diwarnai kisah cinta yang juga problematik, jadi bagian paling menarik dalam film ini.

Yahdi berharap, film ini dapat menginspirasi generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian, seperti yang dicontohkan Putro Hari Purnomo, tokoh utama film. Seorang pemuda yang bertekad kembali dari kota ke kampung halamannya, untuk menggerakkan para petani agar ikut menerapkan metode pertanian alami. 

Film ini mengambil lokasi syuting di Jogjakarta dan didukung alur cerita serta penokohan yang kuat melalui skenario yang ditulis oleh Swastika Nohara.

"Pesan lain yang ingin disampaikan dalam film ini adalah bumi Pertiwi butuh sebuah cara, pertanian yang alami agar terus bisa memberikan hasil bumi terbaik," ucap Yahdi.

Film ini juga didedikasikan bagi para petani yang memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia dan hasil seluruh keuntungan penjualan tiket film ini  akan digunakan sepenuhnya untuk menjalankan program pemberdayaan petani.

Produser eksekutif  Joao Mota menegaskan, Pesan utama dalam film ini,  ketahanan pangan merupakan salah satu kunci  kekuatan negara. (Dd)

Tags:    

Similar News