Jadi guru besar UGM, Prof Tri Joko: Bakteri berpotensi jadi pengganti pupuk dan pestisida

Dosen Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian UGM, Prof. Tri Joko, S.P., M.Sc.,Ph.D, dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Bakteriologi Tumbuhan di Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada.

Update: 2025-07-04 21:34 GMT
Sumber foto: Izan Raharjo/elshinta.com.

Elshinta.com - Dosen Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian UGM, Prof. Tri Joko, S.P., M.Sc.,Ph.D, dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Bakteriologi Tumbuhan di Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Tri Joko membawakan pidato dengan judul "Bakteriologi Tumbuhan dalam Perspektif Kesehatan Tanaman, Keamanan Pangan, dan Pertanian Berkelanjutan," yang berlangsung  di Balai Senat UGM Yogyakarta, Selasa (01/07/2025).

Prof. Tri Joko mengungkapkan bahwa bakteri memiliki 2 peran utama yaitu sebagai patogen yang bisa menurunkan kesehatan tanaman, serta sebagai agen yang mendukung pertumbuhan dan ketahanan tanaman. Bakteri memiliki kemampuan adaptif yang tinggi, keberadaannya sangat melimpah, dan berperan penting dalam kehidupan manusia, baik secara menguntungkan maupun merugikan.

Salah satu pendekatan yang diangkat adalah pengendalian hayati melalui pemanfaatan bakteri antagonis sebagai strategi pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Pendekatan ini dinilai potensial untuk mendukung praktik pertanian berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk serta pestisida sintetis.

Menurutnya, bakteri bisa menyebabkan berbagai penyakit yang pada tanaman, namun juga memegang peran yang sangat penting dalam kesehatan tanaman. Adanya bakteri dalam tanaman justru dapat dimanfaatkan untuk mengenyahkan organisme pengganggu tanaman (OPT).

"Pengendalian hayati dengan memanfaatkan musuh alami, seperti bakteri antagonis menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan. Pemanfaatan beberapa bakteri seperti Bacillus, Streptomyces, dan Pseudomonas sebagai APH untuk mengatasi penyakit-penyakit penting tumbuhan telah dikenal sejak lama dan dikaji secara mendalam. Bakteri sudah banyak dimanfaatkan untuk mengendalikan serangga hama maupun nematoda parasit tumbuhan," kata Prof. Tri Joko.

Dalam penelitian yang dilakukan sebelumnya, bakteri APH juga berperan dalam kesehatan tanaman secara tidak langsung melalui mekanisme pensinyalan biokimia. Interaksi antara tanaman dengan bakteri di rizosfer menjadi penentu kesehatan tanaman, produktivitas, dan kesuburan tanah. Bakteri juga dapat meningkatkan pertumbuhan secara langsung melalui berbagai mekanisme dengan menyediakan faktor pertumbuhan.

Dalam konsep tentang pertanian berkelanjutan yang tidak menimbulkan pengaruh negatif pada lingkungan dan ekosistem pertanian, penggunaan dan introduksi bakteri sebagai plant growth promoting bacteria (PGPB) dan APH unggul akan berhasil jika pengelolaannya sudah dipahami dengan benar. Interaksi bakteri dan tanaman sudah mengalami evolusi menuju terciptanya keseimbangan keduanya dalam mendapatkan manfaat dari interaksi tersebut.

"Pemanfaatan bakteri yang terintegrasi dengan teknik pengelolaan penyakit dapat menjadi pendekatan pertanian berkelanjutan yang dapat mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida sintetis,” pungkasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Izan Raharjo, Jumat (4/7). 

Tags:    

Similar News