Kisah inspiratif model tuna rungu asal Bali yang go internasional

'Melangkah Tanpa Suara', sebuah film pendek inspiratif yang mengangkat perjalanan hidup Tasya, seorang model tuna rungu asal Bali yang telah menorehkan prestasi hingga ke kancah internasional.

By :  Widodo
Update: 2025-08-23 08:13 GMT
'Melangkah Tanpa Suara', sebuah film pendek inspiratif yang mengangkat perjalanan hidup Tasya, seorang model tuna rungu asal Bali yang telah menorehkan prestasi hingga ke kancah internasional. (foto: ist)

Elshinta.com - Jakarta- Di tengah maraknya film horor, sebuah film bertajuk 'Melangkah Tanpa Suara”, hadir di ranah hiburan Tanah Air. Film bergenre drams ini berkisah seorang model tuna rungu asal Bali.

On Camera Pictures bekerja sama dengan Cycloop Entertainment resmi meluncurkan short movie berjudul “Melangkah Tanpa Suara”, sebuah film pendek inspiratif yang mengangkat perjalanan hidup Tasya, seorang model tuna rungu asal Bali yang telah menorehkan prestasi hingga ke kancah internasional.

Film ini mengangkat semangat pantang menyerah dan keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah hambatan untuk meraih impian. Disutradarai sekaligus ditulis oleh Menco Hidayat, “Melangkah Tanpa Suara” resmi ditayangkan perdana dalam acara gala premiere yang digelar di Ruang Misbach Yusa Biran, Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Jakarta Selatan, pada Jumat (22/8).

“Kenapa saya membuat film ini? Karena saya melihat Tasya bukan sekadar model, tapi simbol kekuatan dan harapan. Ia melangkah di atas panggung tanpa pernah mendengar suara, tapi langkahnya justru berbicara lantang bagi kita semua,” ujar Menco Hidayat, sang sutradara.

Film bergenre drama keluarga ini mengisahkan perjalanan seorang anak dengan disabilitas pendengaran yang berjuang menyalurkan hobinya di dunia modeling, meski awalnya tidak mendapat restu dari orang tuanya. Namun dengan keteguhan hati dan kerja keras, sang anak akhirnya mendapat dukungan penuh dan berhasil menembus 
panggung internasional.

“Pesan moral film ini sederhana tapi kuat: ketika orang lain melihat kekurangan kita, bisa jadi itu justru kelebihan yang belum tentu mereka miliki. Jadi tetap semangat dan terus berkarya,” tambah Menco.

Made Sukanaya, Executive Producer sekaligus ayah kandung Tasya, turut menyampaikan kisah inspiratif sang putri dalam acara tersebut. “Tasya lahir dengan disabilitas pendengaran. Sejak umur dua tahun kami tahu bahwa ia 
tuna rungu. Tapi saat saya melihat semangat dan bakatnya di dunia modeling, saya mantapkan hati untuk mendukungnya,” ungkap Made.

Sejak usia lima tahun, Tasya mulai mengikuti kursus modeling. Meskipun sempat dipandang sebelah mata, ia berhasil membuktikan diri hingga dipercaya mewakili Indonesia dalam ajang model internasional di Bangkok, Thailand Saya menangis haru saat menyaksikan Tasya tampil sempurna di panggung megah itu. 

Tanpa mendengar satu nada pun, ia bisa tampil luar biasa. Itu bagi saya adalah kekuatan Tuhan,” ujar Made penuh emosi.

Made juga menitipkan pesan kepada masyarakat Indonesia, terutama bagi para orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus. “Gali potensi anak kita, karena dari kekurangan bisa muncul kelebihan yang luar biasa. 
Jangan pernah menyerah, terus berusaha dengan niat yang tulus dan tujuan mulia,” tutupnya. (Dd)

Tags:    

Similar News