Tradisi Pukul Sapu Lidi jadi simbol persaudaraan masyarakat Maluku

Tradisi Pukul Sapu Lidi kembali digelar di Negeri Morella, Kabupaten Maluku Tengah, sebagai simbol persaudaraan dan warisan budaya masyarakat Maluku.

By :  Widodo
Update: 2026-03-28 23:30 GMT

Atraksi pukul sapu lidi di Negeri Morella, Leihitu, Maluku Tengah, Sabtu. ANTARA/Winda Herman.

Indomie

Tradisi Pukul Sapu Lidi kembali digelar di Negeri Morella, Kabupaten Maluku Tengah, sebagai simbol persaudaraan dan warisan budaya masyarakat Maluku.

“Tradisi ini mencerminkan semangat persaudaraan, keberanian, sportivitas, serta ketangguhan masyarakat Maluku dalam menjaga identitas budaya secara turun-temurun,” kata Sekretaris Daerah Maluku Sadali Le, di Ambon, Sabtu.

Atraksi budaya tahunan tersebut resmi dibuka oleh Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa yang ditandai dengan prosesi pembakaran Obor Kapitan Tulukabessy. Pembukaan turut disaksikan istri Wakil Gubernur, Rohani Vanath.

Usai prosesi, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa bersama istri, istri Wakil Gubernur Rohani Vanath, Sekda beserta istri, serta jajaran Forkopimda turut ambil bagian dalam atraksi dengan memukul peserta menggunakan lidi sebagai simbol pemukul kehormatan.

Selain atraksi utama, masyarakat juga disuguhkan berbagai pertunjukan seni budaya, di antaranya tari Reti, tari Saliwangi, tari Lisa Kapahaha, hingga atraksi Bambu Gila.

Sadali menjelaskan, bahwa tradisi pukul sapu lidi bukan sekadar pertunjukan, melainkan warisan leluhur yang sarat makna dan filosofi kehidupan. Di tengah arus modernisasi, lanjutnya, keberadaan tradisi tersebut menjadi penting untuk terus dilestarikan.

“Pukul sapu lidi bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Negeri Latu Hausihu Morella, tetapi juga menjadi kekayaan budaya Maluku yang memiliki daya tarik besar, baik secara nasional maupun internasional,” ujarnya.

Elshinta Peduli

Ia menambahkan, konsistensi masyarakat dalam menjaga tradisi merupakan bukti bahwa adat dan budaya tetap hidup dan menjadi bagian dari jati diri masyarakat Maluku.

“Saya mengajak kita semua, khususnya generasi muda, untuk terus mencintai dan melestarikan budaya lokal. Jangan sampai nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi ini hilang ditelan zaman,” ajaknya.

Selain itu, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, mengimbau agar atraksi tersebut dijadikan kekuatan dalam membangun karakter, memperkuat persatuan, serta mendorong pengembangan sektor pariwisata daerah.

“Saya berharap kegiatan seperti ini dapat terus dikembangkan dan dikemas lebih baik sehingga mampu menjadi agenda wisata budaya unggulan di Maluku, yang tidak hanya memberikan dampak sosial dan budaya, tetapi juga manfaat ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Kegiatan ini turut dihadiri Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Putranto Gatot Sri Handoyo, Danlanud Pattimura Kolonel Pnb Sugeng Sugiharto, Kabinda Marsha TNI R. Harys Mahhendro, Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir, Wakapolda Maluku Brigjen Imam Thobroni, Kasdam Brigjen TNI Dr. Nefra Firdaus, serta Wakil Komandan Kodaeral IX Laksamana Pertama TNI Muhammad Risahdi.

Di waktu bersamaan, atraksi serupa juga digelar masyarakat di Negeri Mamala.

Elshinta Peduli

Similar News