Selasa, 25 September 2018 | 03:21 WIB

Daftar | Login

kuping kiri paragames kuping kanan paragames
emajels

Ekspos

Southeast Asia Mental Health Forum 2018 bahas kesehatan jiwa dan akses penanganannya

Senin, 03 September 2018 - 12:00    |    Penulis : Administrator
Bersama memulai strategi peningkatan kualitas pelayanan bagi orang-orang dengan skizofrenia.

Para ahli kesehatan jiwa terkemuka dari wilayah Asia Tenggara akan berkumpul bersama dalam Southeast Asia (SEA) Mental Health Forum 2018 di Jakarta, pada tanggal 30 - 31 Agustus 2018, untuk saling berbagi pembelajaran dan mengembangkan strategi untuk mengatasi kesenjangan dalam manajemen kesehatan mental di negara-negara Asia Tenggara. Diselenggarakan oleh Johnson & Johnson, lebih dari 150 peserta yang berasal dari kalangan dari bisnis, pemerintah, organisasi internasional, masyarakat sipil, akademisi dan media akan berpartisipasi dalam forum yang bertemakan - ‘Mewujudkan kepedulian bersama untuk pengobatan Skizofrenia’. Tema ini menyoroti komitmen terhadap kerja sama internasional sebagai upaya dalam memecahkan sejumlah tantangan global yang penting bagi kesehatan jiwa dengan fokus pada manajemen Skizofrenia dan akses pengobatan, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Turut berpartisipasi dalam forum adalah para ahli dari Indonesia dan Asia Tenggara serta wilayah Asia Pasifik termasuk diantaranya: Dr. dr. Trihono, M.Sc, Konsultan Health Policy Unit, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan RI; Prof. Harry Minas, Ketua Global and Cultural Mental Health Unit, Centre for Mental Health, University of Melbourne; Duujian Tsai M.D. & Ph.D, Chair Professor & Director of the Center for Bioethics and Social Medicine, Taiwan; Lakish Hatalkar, Presiden Direktur PT Johnson & Johnson Indonesia; Dr. Eka Viora SpKJ, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI); dan Dra. Diah Ayu Puspandari, Apt., M. Kes., MBA, Ketua Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (Pusat KP-MAK) Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM).

Lakish Hatalkar, Presiden Direktur PT Johnson & Johnson Indonesia menyatakan bahwa, "Tidak ada negara yang kebal terhadap tantangan kesehatan jiwa (mental). Kondisi fisik dan mental yang sehat adalah elemen utama yang membentuk manusia, baik sebagai individu maupun makhluk sosial dan ekonomi. Forum ini menjelaskan bahwa tidak hanya penting bagi negara-negara Asia Tenggara untuk menerapkan kebijakan dan layanan kesehatan jiwa yang lebih baik, tetapi peran dari semua para pemangku kepentingan yang terkait juga sangat diperlukan untuk mengubah perilaku 'orang dengan gangguan jiwa’ (ODGJ) dan keluarga mereka.”

Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) di Indonesia tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi gangguan jiwa emosional yang ditunjukkan oleh gejala depresi dan kecemasan pada usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari total penduduk Indonesia. Sedangkan untuk prevalensi gangguan jiwa berat, seperti Skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk.

Sementara itu, menurut data WHO pada tahun 2016, secara global, terdapat sekitar 35 juta orang yang mengalami depresi, 60 juta orang dengan gangguan bipolar, 21 juta orang dengan Skizofrenia, dan 47,5 juta orang dengan demensia.

Secara global, mayoritas dari mereka yang membutuhkan perawatan kesehatan jiwa di seluruh dunia tidak memiliki akses ke layanan kesehatan mental berkualitas tinggi. Stigma, kurangnya sumber daya manusia, model pemberian layanan yang terfragmentasi, dan kurangnya kapasitas penelitian untuk implementasi dan perubahan kebijakan berkontribusi pada kesenjangan perawatan kesehatan jiwa saat ini. Fakta yang dikeluarkan oleh WHO, Mental Health Gap Action Programme (mhGAP) pada tahun 2008 telah memperkirakan bahwa lebih dari 75% orang dengan gangguan jiwa di negara-negara berkembang tidak memiliki akses ke layanan kesehatan. Laporan yang sama menyatakan bahwa setidaknya sepertiga pasien dengan Skizofrenia dan lebih dari setengahnya menderita depresi, mengkonsumsi alkohol dan menyalahgunakan narkoba, tidak memiliki akses ke layanan kesehatan dalam setahun.

Laporan WHO tentang Investing in Mental Health pada tahun 2013 mengungkapkan bahwa banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah mengalokasikan kurang dari 2% atau bahkan 1% dari anggaran kesehatan untuk perawatan dan pencegahan gangguan jiwa/mental.

Selama pertemuan dua hari di Jakarta tersebut, para ahli kesehatan jiwa akan berusaha mengembangkan pedoman dan panduan bersama yang akan menjadi langkah pertama dalam mengembangkan model manajemen pembiayaan yang ideal untuk layanan Skizofrenia di kawasan Asia Tenggara serta sistem asuransi nasional dan swasta untuk dapat memasukkan pembiayaan kesehatan jiwa dipembiayaan samping kesehatan fisik. Para ahli juga akan saling berbagi praktik terbaik dan pembelajaran dari negara masing-masing mengenai manajemen Skizofrenia dan implementasinya dalam komunitas.

Chiun-Fang Chiou, Senior Director of Market Access, Johnson & Johnson SEA yang turut hadir dalam forum ini mengatakan, “Program yang komprehensif diperlukan untuk membangun sistem layanan kesehatan, yang terdiri dari pengembangan kebijakan dan kapasitas tambahan sumber daya manusia, mekanisme pembiayaan, perbaikan infrastruktur serta sistem pemantauan dan evaluasi. Kami senang dapat memfasilitasi diskusi dalam forum ini dan membuka jalan untuk menemukan solusi yang pada akhirnya akan memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien dalam hal manajemen penyakit mereka, akses pengobatan dan proses reintegrasi ke dalam masyarakat.”

Menutup kesenjangan bagi pengobatan dan pengelolaan Skizofrenia di wilayah Asia Tenggara

Berdasarkan definisi standar WHO, Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang parah, ditandai dengan banyaknya gangguan dalam berpikir, mempengaruhi bahasa, persepsi, dan rasa kesadaran diri. Seringkali termasuk didalamnya adalah pengalaman psikotik, seperti mendengar suara atau delusi. Hal ini dapat merusak fungsi diri melalui hilangnya kemampuan yang diperoleh untuk mendapatkan mata pencaharian, atau gangguan dalam belajar. Pengendalian gangguan jiwa ini membutuhkan upaya yang komprehensif dan berkelanjutan.

Pengobatan Skizofrenia di banyak negara pada saat ini masih terhalang oleh banyak stigma negatif yang melekat pada 'orang-orang dengan Skizofrenia' dan keluarga mereka. Akibatnya, sejumlah kasus Skizofrenia tidak pernah dilaporkan dan tidak mendapatkan tindak lanjut secara medis. Karena itu, WHO terus menyerukan kepada para pihak pemerintah, donor dan pemangku kepentingan di bidang kesehatan jiwa untuk segera berupaya meningkatkan pendanaan dan layanan kesehatan jiwa dasar untuk menutup kesenjangan yang sangat besar ini.

Menurut WHO, terdapat pengobatan yang efektif untuk Skizofrenia dan orang yang terkena dampaknya dapat menjalani kehidupan yang produktif dan terintegrasi dalam masyarakat. Penyakit jiwa tersebut sebenarnya dapat diobati dan dikendalikan. Kuncinya adalah dengan cara memiliki sistem pendukung yang kuat dan mendapatkan perawatan yang tepat. Dengan pengobatan yang tepat, sebagian besar orang dengan Skizofrenia dapat memiliki pekerjaan yang layak dan menjadi produktif dan bahkan mampu memiliki aktivitas lain yang bermakna, menjadi bagian dari komunitas, serta menikmati hidup.

Sebagai perusahaan yang sangat berkomitmen untuk mendukung kesehatan masyarakat di seluruh dunia, Johnson & Johnson memiliki komitmen untuk terlibat dengan masyarakat Asia Tenggara dalam menangani Skizofrenia. Melalui kampanye Lighting the Hope for Schizophrenia yang diluncurkan sejak tahun 2013, Johnson & Johnson telah bekerja sama dengan para profesional, asosiasi kesehatan, dan komunitas terkait.

Kampanye ini bertujuan untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang sejumlah gejala Skizofrenia dan pengobatannya sehingga dapat menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap penderita Skizofrenia dan keluarganya. Kampanye Lighting the Hope for Schizophrenia juga berfokus pada bagaimana caranya memberikan dukungan bagi orang-orang dengan Skizofrenia agar mendapatkan kembali hak-hak mereka untuk hidup produktif dan terhormat di masyarakat.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jika Anda juga ingin mempromosikan produk Anda di laman EKSPOS, hubungi Sales & Marketing Elshinta.com, via telepon (021) 584 2285.

elshinta.com
elshinta.com
Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Download Dance Music DJs.| Download Mp3 Scene Music Private FTP Dance/House/Techno/Trance/Electro Private FTP MP3/FLAC 1990-2018: http://0daymusic.org Best regards, Mark
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com