1.313 pengungsi gempa di Flores NTT dalam penanganan petugas gabungan

Warga melihat bangunan rumah yang rusak akibat gempa di Terong, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Kamis (9/4/2026). Pemerintah Kabupaten Flores Timur mencatat sebanyak 79 rumah rusak akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 yang terjadi pada Kamis (9/4) dini hari di wilayah tersebut. ANTARA FOTO/Mega Tokan/tom.
Warga melihat bangunan rumah yang rusak akibat gempa di Terong, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Kamis (9/4/2026). Pemerintah Kabupaten Flores Timur mencatat sebanyak 79 rumah rusak akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 yang terjadi pada Kamis (9/4) dini hari di wilayah tersebut. ANTARA FOTO/Mega Tokan/tom.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan pengungsi akibat gempa bumi di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur sebanyak 1.131 orang yang saat ini dalam penanganan tim petugas gabungan daerah setempat.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Sabtu, melaporkan bahwa Desa Terong, Desa Lamahala Jaya, Dawata, Karing Lamalouk, Waiwerang, Ipi Ebang di Kecamatan Adonara, serta Desa Motonwutun dan Watobuku di Kecamatan Solor Timur menjadi wilayah yang mengalami dampak signifikan akibat getaran gempa tektonik itu.
BNPB mengkonfirmasi data terbaru yang mereka terima sampai dengan pukul 10. 55 Wib, ada sebanyak 238 unit warga di desa-desa tersebut rusak ringan-berat berikut tiga rumah ibadah, empat fasilitas pendidikan dan dua fasilitas umum.
"10 orang mengalami luka ringan dari warga terdampak 285 keluarga atau 1.313 jiwa pengungsi mandiri. Perkembangan informasi terbaru akan disampaikan secara berkala,"kata dia.
Abdul memastikan bahwa penanganan lanjutan masih berlangsung oleh tim petugas gabungan yang terdiri BPBD, TNI, Polri hingga petugas dinas teknis terkait Kabupaten Flores Timur juga Provinsi Nusa Tenggara Timur.
"BPBD sudah mendirikan tenda pengungsi dan tenda keluarga di beberapa titik lokasi yang mudah dijangkau masyarakat dan dipastikan aman dari potensi bencana susulan maupun jenis bencana yang lain," cetusnya.
Dia menjelaskan bahwa secara fungsi, tenda pengungsi ukuran 6x12 meter itu juga dimanfaatkan untuk pos layanan kesehatan dan posko darurat sementara. Namun, BNPB melaporkan hingga hari ini tidak ada lokasi atau tenda pengungsian terpusat.
Berdasarkan data yang diterima, Abdul menyebut warga terdampak saat ini lebih memilih mendirikan tenda mandiri di dekat rumah dan ada sebagian yang mengungsi di rumah kerabat.
Jika malam hari sejumlah warga memilih tidur di tenda di dekat rumah demi keamanan dan keselamatan karena gempa susulan masih terjadi.
"Tenda pengungsi dan tenda keluarga saat ini menjadi kebutuhan yang mendesak karena stok tenda sebelumnya sudah dipakai untuk penanganan darurat bencana erupsi Gunungapi Lewotobi Laki-Laki. BPBD Provinsi NTT dan BNPB saat ini sedang mendistribusikan kebutuhan tenda dan logistik serta peralatan lain yang dibutuhkan di sana," kata dia.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya melaporkan gempa berkekuatan magnitudo 4,7 terjadi, Rabu (8/4) dini hari.
Gempa berada sekitar 21 kilometer tenggara Larantuka dengan pusat gempa di darat pada kedalaman lima kilometer. Guncangan dirasakan cukup kuat selama dua - empat detik oleh warga di wilayah terdampak.
BMKG bahkan mencatat sebagaimana hasil pemantauan sistem sensor getaran menunjukkan adanya 48 aktivitas gempa bumi susulan, yang hingga saat ini masih dirasakan oleh warga di pesisir Pulau Adonara.




