Arkeolog: Megalit ditemukan di Dongi-Dongi berusia sekitar 1.000 tahun

Megalit diduga berusia 1.000 tahun yang dirusak di Dongi-Dongi, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Kamis (5/3/2026), ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi
Megalit diduga berusia 1.000 tahun yang dirusak di Dongi-Dongi, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Kamis (5/3/2026), ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi
Ahli Arkeolog Sulawesi Tengah Iksam Djorimi memperkirakan, megalit yang ditemukan di Desa Dongi-Dongi berusia sekitar 1.000 tahun.
"Perkiraan 1.000 tahun untuk usia megalit itu," katanya dihubungi di Palu, Jumat.
Dia menjelaskan penyebaran situs megalit dimulai Lembah Behoa dan Bada, Kabupaten Poso ke arah utara hingga Lembah Palu. Dimana, situs megalitikum yang berada di Lembah Behoa dan Bada, Poso, diperkirakan berusia sekitar 2.000 tahun.
"Jadi semakin ke arah utara dari Lembah Behoa, usia megalit semakin muda," ungkap mantan Wakil Kepala Museum Sulawesi Tengah itu.
Lanjut dia, di Lembah Palu, tidak ada ditemukan Kalamba atau patung seperti di Lembah Behoa. Tetapi, yang ada hanya lesung batu, seperti di Desa Watunonju, Kabupaten Sigi
Megalit (batu besar) adalah struktur atau monumen prasejarah yang didirikan menggunakan batu berukuran besar, baik tunggal (monolit) maupun susunan, yang berkembang dari zaman Neolitikum hingga Zaman Perunggu.
Megalit berfungsi sebagai penanda kubur, ritual keagamaan, atau pemujaan leluhur, contohnya meliputi menhir, dolmen, dan sarkofagus.
Megalit yang ditemukan di Dongi-Dongi merupakan batu berukuran besar, yang memiliki pahatan menyerupai wajah manusia, mirip dengan batu kalamba yang banyak ditemukan di Lembah Napu.




