Banjir Rawa Buaya belum surut, 85 persen RW 11 terendam hingga 1,5 meter
Warga mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makan warga terdampak, distribusi makanan dilakukan melalui masing-masing RT

Banjir masih menggenangi rumah warga pasca hujan deras di Kelurahan Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu (24/1/2026). Foto dan Video kiriman Ketua RW 11, Kelurahan Rawa Buaya Bapak Tri.
Banjir masih menggenangi rumah warga pasca hujan deras di Kelurahan Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu (24/1/2026). Foto dan Video kiriman Ketua RW 11, Kelurahan Rawa Buaya Bapak Tri.
Banjir masih menggenangi permukiman warga di Kelurahan Rawa Buaya, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, hingga Sabtu pagi (24/1/2026). Air belum surut dan masih masuk ke rumah warga dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 80 sentimeter hingga 1,5 meter.
Salah satu warga terdampak, Maryono, mengatakan air di dalam rumahnya masih mencapai sekitar 80–90 sentimeter. Sehari sebelumnya, ketinggian air sempat menembus lebih dari satu meter. “Airnya masih bertahan di rumah. Kemarin sempat sampai 1 meter 20,” ujar Maryono dalam wawancara Edisi Pagi Radio Elshinta, Sabtu (24/1/2026).
Maryono yang tinggal di RT 04 RW 11 Rawa Buaya menyebut banjir di wilayahnya termasuk yang paling lama surut dibandingkan kawasan lain di Jakarta Barat. Meski demikian, sebagian besar warga memilih bertahan di rumah karena bangunan rata-rata sudah memiliki lantai dua, sehingga tidak perlu mengungsi seperti saat banjir besar 2020.
Sementara itu, Wakil Ketua RW 11 Rawa Buaya, Sarkeni dalam wawancara Edisi Pagi Radio Elshinta, Sabtu (24/1/2026), menjelaskan dampak banjir kali ini cukup luas. Dari total 12 RT dengan sekitar 12.400 jiwa, sekitar 85 persen wilayah RW 11 terdampak banjir. Menurutnya, kondisi ini seharusnya bisa dicegah.
“Sejak 2021 kami sudah dibantu pintu air permanen dan pompa portable berkapasitas besar. Selama beberapa tahun itu cukup efektif menahan banjir,” kata Sarkeni yang dipandu news anchor Ashrofi Muntari.
Ia mengungkapkan, banjir kali ini dipicu oleh sodetan liar yang dibuat oknum warga di bantaran Kali Angke untuk pembuangan limbah rumah tangga. Saat debit air kiriman dari hulu meningkat, air justru masuk ke permukiman yang posisinya lebih rendah dan membuat pompa tidak mampu menampung beban air.
“Air kiriman dari Bogor yang seharusnya langsung mengalir ke laut malah masuk lewat sodetan-sodetan itu, sehingga pompa menjadi overload,” ujarnya.
Akibatnya, ketinggian air di sejumlah rumah warga mencapai 1 hingga 1,5 meter. Sarkeni menyebut, tanpa bantuan pompa yang masih beroperasi, banjir berpotensi mencapai dua meter.
Di tengah kondisi tersebut, warga RW 11 secara mandiri mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makan warga terdampak. Distribusi makanan dilakukan melalui masing-masing RT, meski belum sepenuhnya menjangkau seluruh warga.
Selain genangan air, warga juga mengalami kendala akses dan aktivitas harian. Sejumlah ruas jalan utama di sekitar Cengkareng dan Daan Mogot sempat terputus, sehingga sebagian warga tidak dapat berangkat bekerja. Akses keluar-masuk wilayah RW 11 masih mengandalkan Jalan Inspeksi yang relatif lebih aman.
Sarkeni menambahkan, Rawa Buaya merupakan wilayah cekungan yang secara historis merupakan rawa, sehingga air cenderung lebih lama surut. Ia berharap pemerintah daerah segera melakukan penanganan darurat dengan menutup sodetan liar serta memperkuat sistem pengendalian banjir agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Hingga berita ini diturunkan, banjir masih menggenangi permukiman Rawa Buaya dan warga bertahan di rumah sambil menunggu air surut. (Nak)




