BMKG: Cuaca ekstrem masih berlangsung, waspada hujan lebat dan angin kencang

Banjir menggenangi puluhan desa di 6 kecamatan di Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Lebih dari 32 ribu warga terdampak banjir usai diguyur hujan deras. Selasa (13/1/2026). Foto : Radio Elshinta Sutini
Banjir menggenangi puluhan desa di 6 kecamatan di Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Lebih dari 32 ribu warga terdampak banjir usai diguyur hujan deras. Selasa (13/1/2026). Foto : Radio Elshinta Sutini
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan potensi cuaca ekstrem masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan, khususnya di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini dipicu oleh dinamika atmosfer global dan regional yang masih aktif, mulai dari Madden Julian Oscillation (MJO), bibit siklon tropis, hingga konvergensi angin.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa pada pertengahan Januari hingga awal Februari, aktivitas atmosfer masih mendukung pembentukan awan hujan secara signifikan.
“Kalau kita melihat dari dinamika atmosfer yang saat ini ada, Madden Julian Oscillation masih berada di wilayah Indonesia bagian timur atau Western Pacific, dan ini memberikan dampak hujan di Maluku Utara, Papua, hingga Ternate,” kata Guswanto dalam wawancara di Radio Elsinta yang dipandu Yuyun Arbayah, Selasa (13/1/2026).
Selain itu, BMKG juga mendeteksi bibit siklon tropis 91W di utara Papua yang turut memperkuat potensi cuaca ekstrem.
“Kami mendeteksi adanya bibit siklon tropis 91W di utara Papua, dan ini memberikan dampak peningkatan cuaca ekstrem di wilayah tersebut,” ujarnya.
Tak hanya Indonesia timur, wilayah tengah dan barat juga berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat. BMKG mencatat adanya konvergensi angin yang memanjang dari Sumatera hingga Nusa Tenggara.
“Konvergensi ini memanjang dari Sumatera Selatan, Laut Jawa, Banten hingga Jawa Timur, kemudian ke Nusa Tenggara Barat, NTT, sampai Laut Arafura. Kondisi ini menyebabkan hujan dengan durasi sedang hingga lebat,” jelas Guswanto.
BMKG juga mengamati adanya tekanan rendah (low pressure) di Samudra Hindia selatan Bali dan Nusa Tenggara yang dapat memperkuat pertumbuhan awan hujan.
Selain hujan lebat, masyarakat juga diminta mewaspadai angin kencang. Berdasarkan analisis BMKG, kecepatan angin di beberapa wilayah mengalami peningkatan signifikan.
“Di atas Jawa, kecepatan angin sekitar 19 knot, sementara di Jawa Timur bisa mencapai 34 knot. Artinya ada potensi hujan lebat disertai angin kencang,” kata Guswanto.
Peringatan cuaca 3 hari ke depan
BMKG mengeluarkan peringatan cuaca untuk periode 14–15 Januari, dengan rincian sebagai berikut:
Waspada hujan sedang hingga lebat:
Sumatera Selatan
Kepulauan Bangka Belitung
Bengkulu
DKI Jakarta
Bali
Kalimantan Tengah
Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan
Maluku Utara
Siaga hujan lebat (tidak sangat lebat) 14 Januari:
Lampung
Banten
Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur
NTB, NTT
Maluku Utara
Siaga hujan lebat 15 Januari:
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
Peringatan angin kencang:
Jawa, Bali
NTB
Maluku
Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara
Potensi banjir dan longsor
BMKG mengingatkan dampak lanjutan berupa bencana hidrometeorologi, seperti banjir, genangan air, dan longsor.
“Durasi hujan yang lama akan membuat tanah jenuh. Jika terjadi di wilayah lereng dengan tutupan vegetasi minim, air akan menjadi aliran permukaan atau runoff yang sangat cepat,” ujar Guswanto.
Menurut BMKG, hujan tidak selalu ekstrem karena intensitasnya, tetapi juga karena durasinya.
“Hujan 20 milimeter dalam satu hari belum tentu ekstrem. Tapi kalau 20 milimeter itu jatuh dalam 6 atau 7 jam, maka itu bisa menjadi ekstrem,” jelas Guswanto.
Cuaca ekstrem juga berdampak pada sektor penerbangan, terutama akibat awan cumulonimbus.
“Yang paling menentukan untuk take off dan landing adalah jarak pandang atau visibility. Kalau di bawah 1.000 meter, apalagi di bawah 500 meter, penerbangan tidak bisa dilakukan,” tegas Guswanto.
BMKG memastikan sistem informasi meteorologi penerbangan Ina-SIAM terus berkoordinasi dengan AirNav dan otoritas bandara agar informasi cuaca diterima sebelum penerbangan dilakukan.
Untuk sektor maritim, BMKG memprakirakan gelombang setinggi 2,5–4 meter berpotensi terjadi pada 13–18 Januari di:
Samudra Pasifik utara Maluku
Perairan Papua
Laut Arafura bagian tengah dan timur
Mulai 15 Januari, gelombang tinggi juga berpotensi muncul di Samudra Hindia selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
“Jika kondisi membahayakan, penyeberangan bisa dihentikan sesuai SOP bersama antara BMKG, BPTD, KSOP, dan instansi terkait,” ujar Guswanto.
Musim hujan berlangsung hingga puasa
Menjawab pertanyaan masyarakat, BMKG memastikan musim hujan masih berlangsung hingga Februari, bahkan berpotensi berlanjut sampai Maret.
“Puasa dan Lebaran masih berada dalam periode musim hujan. Beberapa tahun lalu, Lebaran juga terjadi saat hujan,” kata Guswanto.
Untuk wilayah DKI Jakarta, BMKG mencatat puncak musim hujan terjadi pada Januari dasarian ketiga hingga Februari dasarian pertama.
“Kalau hujan sudah terjadi dari subuh hingga pagi, itu tandanya sudah mendekati puncak musim hujan dan perlu diwaspadai,” pungkasnya.




