BMKG imbau waspada gelombang 6 meter akibat Siklon Jenna

Ilustrasi - Kapal nelayan berlayar ditengah gelombang laut tinggi di perairan pantai Slili, Gunungkidul, Yogyakarta. ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo
Ilustrasi - Kapal nelayan berlayar ditengah gelombang laut tinggi di perairan pantai Slili, Gunungkidul, Yogyakarta. ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi gelombang tinggi hingga mencapai enam meter di sejumlah perairan Indonesia, termasuk di wilayah Laut Natuna Utara.
Direktur Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo di Jakarta, Rabu, melaporkan bahwa potensi gelombang laut tinggi tersebut diprakirakan terjadi pada periode 7 - 10 Januari 2026.
Tim Meteorologi BMKG mengkonfirmasi kondisi tersebut dipengaruhi oleh keberadaan Siklon Tropis Jenna di Samudra Hindia barat daya serta Bibit Siklon Tropis 90W di Laut Filipina yang memicu peningkatan kecepatan angin dan tinggi gelombang di perairan Indonesia.
BMKG mencatat pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari barat laut hingga timur laut dengan kecepatan 6-25 knot, sementara di wilayah selatan bergerak dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan yang relatif sama.
Kondisi itu berpotensi menyebabkan gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di sejumlah perairan, antara lain perairan Morotai, Halmahera, Obi, Sanana, Taliabu, Kayoa, Kepulauan Loloda, Batang Dua, Ternate, Bacan, Teluk Weda, serta perairan Kepulauan Halmahera dan Gebe.
Sementara itu, gelombang dengan ketinggian 2,5 hingga 4 meter berpeluang terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Bali, NTB, Laut Arafura bagian tengah dan timur, serta wilayah selatan Karimata bagian utara.
Adapun gelombang sangat tinggi dengan ketinggian 4 hingga 6 meter diprakirakan berpeluang terjadi di perairan Laut Natuna Utara dan berisiko terhadap keselamatan pelayaran.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan operator transportasi laut, untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi perahu nelayan, kapal tongkang, kapal ferry, serta kapal berukuran besar yang berpotensi terdampak kondisi cuaca dan gelombang ekstrem.
Selain itu, BMKG juga meminta masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di wilayah pesisir sekitar perairan yang berpeluang mengalami gelombang tinggi agar tetap waspada dan memantau perkembangan informasi cuaca maritim secara berkala.




