BMKG pantau kemunculan tekanan rendah di perairan NTB

Tangkapan layar prakiraan angin lapisan yang memperlihatkan lokasi pusat tekanan rendah di Samudera Hindia sebelah selatan Nusa Tenggara Barat, Selasa (13/1/2026). ANTARA/HO-BMKG NTB
Tangkapan layar prakiraan angin lapisan yang memperlihatkan lokasi pusat tekanan rendah di Samudera Hindia sebelah selatan Nusa Tenggara Barat, Selasa (13/1/2026). ANTARA/HO-BMKG NTB
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi kemunculan pusat tekanan rendah di Samudra Hindia sebelah selatan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berpotensi menimbulkan fenomena cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan.
"Kami mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, serta mewaspadai gelombang laut yang mencapai dua meter atau lebih," kata Kepala Stasiun Meteorologi BMKG NTB Satria Topan Primadi di Mataram, Selasa.
Analisis kondisi fisis dan dinamika atmosfer yang dilakukan BMKG mengungkap bahwa keberadaan pusat tekanan rendah mampu memicu pertumbuhan awan hujan secara signifikan.
Angin permukaan di wilayah NTB bertiup dengan arah variasi dominan barat daya hingga barat laut dengan kecepatan angin maksimum mencapai 35 kilometer per jam.
"Suhu permukaan laut di wilayah perairan NTB dan sekitarnya berkisar antara 28 sampai 30 derajat Celcius dengan anomali minus 1 derajat Celcius hingga 0,5 derajat Celcius," ujar Satria.
Selain pusat tekanan rendah, dinamika atmosfer lainnya berupa penguatan aliran massa udara dari Benua Asia turut meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan.
Monsun Asia yang menguat disertai peningkatan kecepatan angin dari wilayah Laut China Selatan bergerak ke arah selatan melalui Selat Karimata hingga mencapai Pulau Jawa.
Pola aliran angin ini memperkuat pembentukan daerah konvergensi di sepanjang Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur yang berperan dalam meningkatkan pertumbuhan awan hujan.
Kemunculan pusat tekanan rendah turut mempengaruhi sirkulasi angin regional yang memperkuat perlambatan dan pengangkatan massa udara di wilayah Indonesia bagian selatan.
Kepala BMKG Pusat Teuku Faisal Fathani dalam laporannya menyatakan kombinasi dinamika atmosfer tersebut meningkatkan potensi hujan dengan intensitas sedang, lebat, hingga sangat lebat di sepanjang Pulau Jawa sampai Kepulauan Sunda Kecil.
Ia menegaskan perlu langkah-langkah mitigasi dan antisipasi dalam menghadapi fenomena cuaca ekstrem guna meminimalkan potensi dampak potensi bencana hidrometeorologi akibat peningkatan Monsun Asia dan kemunculan pusat tekanan rendah.




