BMKG: Tim SAR bergerak usai peringatan tsunami berakhir di Malut-Sulut

Reruntuhan bangunan Gereja Kalvari akibat guncangan gempa bumi magnitudo 7,6 di Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Maluku Utara, Kamis (2/4/2026). ANTARA/Abdul Fatah/aa.
Reruntuhan bangunan Gereja Kalvari akibat guncangan gempa bumi magnitudo 7,6 di Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Maluku Utara, Kamis (2/4/2026). ANTARA/Abdul Fatah/aa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan pengakhiran peringatan dini tsunami menjadi acuan bagi tim SAR gabungan untuk mulai bergerak masuk wilayah terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,6 di Maluku Utara (Malut)-Sulawesi Utara (Sulut), Kamis.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, mengatakan peringatan dini tsunami diakhiri pada pukul 09.56 WIB setelah melalui serangkaian pemantauan.
Setelah pengakhiran peringatan dini, tim SAR, BPBD, dan tim asesmen dapat mulai masuk lokasi terdampak.
BMKG merilis data pengamatan muka air laut atau tide gauge secara bertahap tiga kali, yakni sekitar 59 menit, 1 jam 38 menit, hingga 3 jam 45 menit setelah gempa, sesuai prosedur operasional standar.
"Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar dalam pengambilan keputusan hingga akhirnya peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir," kata dia.
BMKG juga mengapresiasi kolaborasi lintas lembaga, termasuk dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, serta Badan Informasi Geospasial (BIG) dalam pemantauan dan penanganan dampak gempa yang berpotensi tsunami.
Selain itu, BMKG menilai peran media massa penting dalam menyampaikan informasi resmi kepada masyarakat guna mencegah terjadinya misinformasi.
Teuku mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, waspada, dan mengikuti informasi resmi dari BMKG serta instansi terkait di daerah.
"Peningkatan mitigasi bencana penting, termasuk pembangunan infrastruktur tahan gempa dan kewaspadaan di wilayah rawan tsunami," ujarnya.
Gempa bumi magnitudo 7,6 mengguncang wilayah barat daya Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara, dengan dirasakan masyarakat di sejumlah daerah, seperti Ternate, Manado, dan Gorontalo dengan intensitas bervariasi.
BMKG mencatat gelombang tsunami sempat terdeteksi di beberapa wilayah pesisir, antara lain Halmahera Barat setinggi 0,30 meter, Bitung 0,20 meter, serta Minahasa Utara 0,75 meter.




