BRIN soroti adaptasi teknologi pertanian untuk hadapi perubahan iklim

Penyuluh pertanian menanam bibit padi menggunakan alat rice transplanter di sawah saat penanaman padi serentak di Walitelon, Temanggung, Jawa Tengah, Kamis (18/12/2025). Pemerintah setempat mendorong penggunaan teknologi pertanian modern sebagai upaya membangun petani mandiri dan petani melenial yang adaptif terhadap inovasi guna mendukung ketahanan swasembada pangan nasional. ANTARA FOTO/Anis Efizudin
Penyuluh pertanian menanam bibit padi menggunakan alat rice transplanter di sawah saat penanaman padi serentak di Walitelon, Temanggung, Jawa Tengah, Kamis (18/12/2025). Pemerintah setempat mendorong penggunaan teknologi pertanian modern sebagai upaya membangun petani mandiri dan petani melenial yang adaptif terhadap inovasi guna mendukung ketahanan swasembada pangan nasional. ANTARA FOTO/Anis Efizudin
Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Amarulla Octavian menyoroti perlunya evaluasi penerapan teknologi baru dalam berbagai konteks sistem pertanian global, khususnya dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
"Kita bergerak lebih dekat menuju realitas industri dari misi kita, yaitu menjembatani kesenjangan antara pengetahuan ilmiah dan kebijakan yang dapat ditindaklanjuti, sekaligus menghasilkan dampak sosial dan ekonomi yang terukur," kata Amarulla dalam keterangan di Jakarta, Senin.
Maka dari itu, BRIN resmi bergabung ke dalam kemitraan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) Livestock Environmental Assessment and Performance (LEAP) Partnership.
Amarulla menilai hal ini menjadi tonggak penting yang memperkuat penggunaan metrik berbasis sains yang transparan dan terstandar secara global dalam mengukur jejak lingkungan rantai pasok peternakan.
"Komitmen ini akan meningkatkan akuntabilitas dan harmonisasi dalam pengukuran dampak lingkungan sektor peternakan," lanjutnya.
Amarulla menekankan bahwa kontribusi generasi muda menjadi kunci dalam mewujudkan kerangka strategis FAO melalui “empat lebih baik” yang terdiri dari: produksi yang lebih baik, nutrisi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, serta kehidupan yang lebih baik tanpa meninggalkan siapa pun.
Ke depan, ia berharap kolaborasi yang terbangun dalam forum ini tidak berhenti pada pertemuan semata, melainkan berlanjut menjadi kemitraan konkret yang mampu mendorong sistem pangan yang tangguh dan cerdas iklim.
"Kita menginginkan masa depan di mana petani kecil memiliki akses terhadap teknologi dan sumber daya untuk berkembang, serta sistem pangan yang mampu menghadapi tekanan perubahan iklim," ujarnya.
Amarulla menegaskan pentingnya kerja sama global dalam mentransformasi industri peternakan menjadi sistem yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan dunia, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.
Diketahui, dorongan BRIN terhadap adaptasi teknologi pertanian untuk menghadapi ancaman perubahan iklim tak hanya dilakukan dengan bergabung dengan kemitraan global, namun juga dengan menggelar lokakarya seperti Global Livestock Environmental Assessment Model (GLEAM) dan International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation yang digelar pada pekan lalu.




