Instalasi seni kapal VOC dipamerkan di Museum Bahari

Instalasi seni berupa karya seni site-specific berbentuk kapal VOC tanpa tiang, disusun dari ratusan lembar kain transparan dengan pewarnaan simbolik merah (crimson) dan emas (gilt) yang dipamerkan di Museum Bahari, Jakarta. Pameran bertajuk "Crimson Gilt’ karya seniman asal Belanda, Vincent Ruijters ini diadakan mulai 5 Februari sampai 6 April 2026. ANTARA/Instagram/@museumkebaharianjkt.
Instalasi seni berupa karya seni site-specific berbentuk kapal VOC tanpa tiang, disusun dari ratusan lembar kain transparan dengan pewarnaan simbolik merah (crimson) dan emas (gilt) yang dipamerkan di Museum Bahari, Jakarta. Pameran bertajuk "Crimson Gilt’ karya seniman asal Belanda, Vincent Ruijters ini diadakan mulai 5 Februari sampai 6 April 2026. ANTARA/Instagram/@museumkebaharianjkt.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menghadirkan pameran instalasi seni berbentuk kapal dagang VOC tanpa tiang yang disusun dari ratusan lembar kain transparan dengan pewarnaan simbolik merah (crimson) dan emas (gilt) di Museum Bahari, Jakarta Utara.
"Pameran ini diselenggarakan di Museum Bahari Jakarta karena perannya sebagai bekas gudang VOC di Batavia, menjadikannya lokasi yang relevan secara historis dan kontekstual untuk membahas warisan maritim serta kolonial," kata Sekretaris Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Retno Setiowati dalam keterangan di Jakarta, Jumat.
Pameran karya seniman asal Belanda Vincent Ruijters bertajuk "Crimson Gilt" itu menampilkan karya seni yang mempresentasikan kapal VOC, yang berkaitan erat dengan sejarah maritim Indonesia dan disajikan di tiga negara yakni, Jepang pada 2025; kemudian saat ini di Jakarta, Indonesia; dan akan berlanjut di Belanda pada September 2026.
Pameran tersebut diadakan untuk menyambut lima abad Kota Jakarta sekaligus memiliki relevansi strategis karena menempatkan Jakarta sebagai simbol penting dalam narasi sejarah maritim dunia.
Retno pun berharap "Crimson Gilt" dapat mendukung penguatan peran Jakarta sebagai Kota Global, khususnya dalam bidang kebudayaan, melalui kerja sama internasional, jejaring institusi maritim dunia, serta penyajian narasi sejarah yang inklusif dan relevan bagi masyarakat global.
“Semoga dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita semua dalam memaknai sejarah perjalanan bangsa Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan kemaritiman, sekaligus semakin memperkuat peran museum sebagai ruang dialog global dan diplomasi budaya antarnegara,” ungkap Retno.
Pameran tersebut berlangsung mulai 5 Februari hingga 6 April 2026, dan akan diisi dengan Public Artist Talk yang disampaikan secara langsung oleh Vincent Ruijters untuk mengeksplorasi karya seni yang disajikan secara lebih mendalam.




