KA Siliwangi kembali normal usai jalur Cibeber–Lampegan pulih
Operasional KA Siliwangi rute Sukabumi–Cipatat kembali normal setelah jalur Cibeber–Lampegan selesai diperbaiki oleh KAI Daop 2 Bandung usai gangguan pengikisan tanah.

Proses pemulihan jalur kereta Cibeber–Lampegan antara Bandung dan Cianjur oleh petugas Daop 2 Bandung. (ANTARA/HO Daop 2 Bandung)
Proses pemulihan jalur kereta Cibeber–Lampegan antara Bandung dan Cianjur oleh petugas Daop 2 Bandung. (ANTARA/HO Daop 2 Bandung)
Operasional Kereta Api (KA) Siliwangi rute Sukabumi–Cipatat kembali berjalan normal mulai Jumat (24/4) setelah perbaikan jalur rel di petak Cibeber–Lampegan, yang menghubungkan Bandung dan Cianjur, selesai dilakukan.
Perbaikan tersebut sebelumnya dilakukan karena adanya gangguan akibat pengikisan tanah di sekitar jalur. Tim prasarana PT KAI Daop 2 Bandung kemudian melakukan penanganan intensif dengan memperkuat stabilisasi tanah serta memperbaiki struktur rel agar kembali memenuhi standar keselamatan.
Setelah proses perbaikan rampung, jalur tersebut diuji menggunakan Kereta Luar Biasa (KLB) pada Kamis (23/4) pukul 20.00 WIB. Hasil pengujian menyatakan jalur sudah aman untuk dilalui kereta api.
Manajer Humas KAI Daop 2 Bandung, Kuswardojo, mengatakan bahwa seluruh tahapan pemeriksaan dan uji coba telah dilakukan secara menyeluruh sebelum jalur dinyatakan layak operasional.
Meski sudah kembali normal sesuai Grafik Perjalanan KA (Gapeka), KAI tetap menerapkan pemantauan ketat di lokasi untuk memastikan kondisi jalur tetap stabil.
KAI menegaskan bahwa aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap operasional, dan seluruh proses perbaikan dilakukan untuk menjamin perjalanan kereta tetap aman.
Kembalinya operasional KA Siliwangi ini disambut positif oleh masyarakat, terutama pengguna di wilayah Cianjur dan sekitarnya yang mengandalkan transportasi tersebut untuk aktivitas harian dan ekonomi.
Sebagai langkah pencegahan, KAI Daop 2 Bandung juga meningkatkan inspeksi rutin pada titik-titik rawan, terutama yang berpotensi terdampak kondisi cuaca ekstrem, guna meminimalkan gangguan serupa di masa mendatang.




