Pemudik disarankan manfaatkan WFA demi lalu lintas lancar

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi (kanan) menyerahkan secara simbolis kompensasi kepada pengemudi transportasi tradisional di wilayah Cirebon yang terdampak pengaturan angkutan Lebaran 1447 Hijriah/2026 Masehi. ANTARA/HO-BKIP Kemenhub
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi (kanan) menyerahkan secara simbolis kompensasi kepada pengemudi transportasi tradisional di wilayah Cirebon yang terdampak pengaturan angkutan Lebaran 1447 Hijriah/2026 Masehi. ANTARA/HO-BKIP Kemenhub
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi meminta masyarakat memanfaatkan kebijakan work from anywhere (WFA) untuk mengatur jadwal perjalanan mudik, sehingga distribusi waktu perjalanan lebih merata dan potensi kemacetan selama periode Lebaran dapat dikurangi.
"Pemerintah mengimbau masyarakat untuk dapat mengatur waktu perjalanan dengan memanfaatkan kebijakan work from anywhere, dengan begitu distribusi waktu mudik bisa merata dan mengurangi potensi kemacetan," kata Menhub dalam keterangan di Jakarta, Minggu.
Adapun pemerintah menerapkan kebijakan WFA bertepatan dengan masa libur Lebaran yang berlangsung sekitar dua pekan, yakni pada kisaran 14-29 Maret 2026. Periode tersebut mencakup libur Hari Raya Idul Fitri, libur Nyepi, serta cuti bersama.
Dudy menekankan, pentingnya mengurai kepadatan arus mudik dengan memanfaatkan kebijakan WFA saat meninjau kondisi arus transportasi dan sejumlah titik mudik di Jawa Barat pada masa Angkutan Lebaran 2026.
Dalam peninjauan tersebut, Menhub didampingi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi guna memastikan kesiapan layanan transportasi serta kelancaran pergerakan masyarakat selama periode mudik Lebaran.
"Peninjauan ini kami lakukan untuk memantau secara langsung situasi lalu lintas di salah satu jalur utama mudik pada masa awal arus mudik," ujar Menhub.
Titik pertama pemantauan adalah Cirebon. Dalam kesempatan tersebut, Menhub menyampaikan bahwa pergerakan kendaraan pada periode awal arus mudik mulai menunjukkan peningkatan.
Dia menyebutkan, berdasarkan laporan Jasa Marga, hingga saat ini volume kendaraan tercatat meningkat sekitar 14 persen dibandingkan kondisi hari normal.
“Sejauh ini memang sudah ada peningkatan, tetapi belum terlalu tinggi. Berdasarkan laporan dari Jasa Marga, hingga hari ini terjadi peningkatan sekitar 14 persen,” jelas Menhub.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Kementerian Perhubungan, puncak arus mudik diperkirakan akan terjadi pada 18 Maret 2026.
Selain itu, pemerintah juga mewaspadai potensi hambatan lalu lintas yang berasal dari aktivitas masyarakat di sekitar jalur mudik.
Menhub juga mengimbau agar kegiatan yang berpotensi membahayakan keselamatan, seperti aktivitas warga yang mencari koin dari pengguna jalan di jalur Pantura kawasan Kalisewo, Indramayu, dapat dihentikan sementara.
Dia berharap kegiatan tersebut dapat dihentikan sementara mengingat pada saat arus mudik nanti jumlah kendaraan akan sangat banyak sehingga berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas.
"Yang paling penting, kami juga mengkhawatirkan keselamatan saudara-saudara kita yang berada di kawasan Kalisewo tersebut,” tutur Menhub.
Menhub bersama Gubernur Jabar juga menyerahkan secara simbolis kompensasi kepada 557 pengemudi transportasi tradisional di wilayah Cirebon, yang terdiri dari pengemudi becak dan ojek.
Kompensasi itu diberikan kepada para pengemudi yang terdampak pengaturan dan pengendalian operasional selama masa arus mudik.
Menhub menyampaikan langkah itu merupakan bagian dari upaya kolaboratif antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam menjaga kelancaran arus mudik, sekaligus memberikan perhatian kepada para pengemudi transportasi tradisional yang terdampak pengaturan lalu lintas selama masa angkutan Lebaran.
Program bantuan tersebut memberikan kompensasi sebesar Rp1,4 juta per orang kepada pengemudi transportasi tradisional seperti angkot, becak, andong, dan ojek.
Melalui bantuan itu, para pengemudi diharapkan dapat mengurangi aktivitas operasional sementara selama masa arus mudik sehingga potensi hambatan samping di jalan dapat diminimalkan.
Menhub menilai langkah tersebut turut membantu petugas di lapangan dalam menjaga kelancaran lalu lintas di jalur-jalur utama mudik, khususnya di wilayah Pantura Cirebon yang menjadi salah satu koridor penting pergerakan masyarakat menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur.
“Kami juga mengimbau pemerintah daerah lain untuk dapat menginisiasi program serupa sesuai dengan kemampuan masing-masing daerah. Langkah seperti ini dapat membantu menciptakan perjalanan mudik yang selamat, aman, lancar, dan nyaman bagi masyarakat,” ucap Menhub.
Melalui berbagai langkah kolaboratif antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah tersebut, diharapkan pelaksanaan angkutan Lebaran 2026 dapat berjalan dengan selamat, aman, lancar, dan nyaman bagi seluruh masyarakat.
Usai melakukan peninjauan di Cirebon, Menhub melanjutkan perjalanan ke Subang melalui jalur darat. Hal tersebut untuk memastikan kesiapan infrastruktur dan kelancaran arus lalu lintas di jalur utama yang menjadi lintasan pemudik.
Selain itu, Menhub juga memantau langsung kondisi titik-titik rawan kepadatan serta kesiapan fasilitas pendukung keselamatan perjalanan. Peninjauan pun ditutup dengan kembali ke Jakarta melalui jalur Pantura.
"Peninjauan melalui jalur darat ini penting agar kami dapat melihat secara langsung kondisi riil di lapangan, mulai dari kelancaran arus lalu lintas, kesiapan rambu dan fasilitas keselamatan, hingga potensi titik kemacetan," jelas Menhub.
Dengan begitu, kata Menhub, langkah antisipasi dapat disiapkan lebih optimal demi memastikan perjalanan mudik masyarakat berlangsung aman, lancar, serta nyaman.




