PERHAPI bahas dampak tambang dan banjir DAS Garoga
FGD PERHAPI membedah banjir DAS Garoga berbasis kajian geospasial independen CENAGO ITB.
Elshinta/ Rizky Rian Saputra
Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk mendalami dampak operasi penambangan terhadap persoalan banjir di wilayah DAS Garoga, Selasa (3/3/2026). Forum ini menyoroti kajian ilmiah independen guna menjawab isu yang berkembang di ruang publik.
Ketua Umum PERHAPI, Sudirman Widhy Hartono, menjelaskan FGD digelar sebagai respons atas maraknya pemberitaan yang mengaitkan aktivitas pertambangan dengan bencana banjir di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Menurutnya, PERHAPI mencermati hasil penelitian independen yang dilakukan oleh CENAGO Institut Teknologi Bandung terkait penyebab banjir tersebut. Kajian dilakukan melalui investigasi lapangan selama sekitar dua bulan, yakni Desember 2025 hingga Januari 2026, dan telah dipresentasikan kepada para pemangku kepentingan pada 18 Februari lalu.
“PERHAPI juga diundang dalam forum tersebut dan kami tertarik menghadirkan CENAGO untuk memaparkan hasil kajiannya kepada kalangan profesional pertambangan,” ujar Sudirman.
Ia menambahkan, terdapat perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah tersebut, yakni PT Agincourt Resources (PT AR), yang turut menjadi sorotan. Berdasarkan hasil kajian CENAGO, banjir di wilayah DAS Garoga disebut secara hidrologis terpisah dari sub-DAS operasional PT AR.
Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), STJ Budi Santoso, menekankan pentingnya penggunaan data lapangan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah sebagai referensi kebijakan.
“Saya yakin pemerintah perlu menggunakan data dan hasil kajian yang diambil langsung di lapangan oleh pihak yang kompeten dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan kalangan ahli,” ujarnya.
Menurut Budi, hasil kajian tersebut dapat menjadi salah satu referensi dalam pengambilan keputusan, meskipun pemerintah kemungkinan memiliki sumber data dan pertimbangan lain dalam menentukan kebijakan. (Rizky Rian Saputra)
FGD ini diharapkan menjadi ruang diskusi berbasis keilmuan untuk menghasilkan resolusi yang objektif dan komprehensif terkait persoalan banjir dan aktivitas pertambangan di wilayah DAS Garoga.






