Perubahan lingkungan tingkatkan risiko stres jamaah haji

Jamaah haji Indonesia memadati area mabit di Muzdalifah, Makkah, Arab Saudi, Jumat (6/6/2025). ANTARA FOTO/Andika Wahyu/foc/aa.
Jamaah haji Indonesia memadati area mabit di Muzdalifah, Makkah, Arab Saudi, Jumat (6/6/2025). ANTARA FOTO/Andika Wahyu/foc/aa.
Guru Besar Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Abdul Mujib mengemukakan bahwa jamaah yang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci rentan mengalami stres akibat perubahan lingkungan.
Menurut Mujib, perubahan drastis dari lingkungan rumah yang serba mandiri ke lingkungan asrama yang serba komunal di Arab Saudi menjadi pemicu utama stres.
"Karena dengan perubahan waktu, perubahan sosial, perubahan segalanya itu, dengan kondisi yang awalnya serba mandiri di rumah, kemudian harus dengan akomodasi bersama, itu akan menjadi masalah," ujar Mujib setelah menjadi pemateri diklat calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin.
Oleh karena itu, lanjutnya, para petugas haji harus memiliki asumsi dasar bahwa jamaah akan bermasalah secara psikologis. Asumsi itu penting bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar petugas memiliki kesiagaan penuh sejak awal.
Faktor pemicu stres di Tanah Suci sangat beragam, mulai dari perbedaan iklim yang ekstrem, perbedaan budaya, hingga perubahan pola hidup sehari-hari.
Ia mencontohkan jamaah yang di rumahnya terbiasa memiliki privasi tinggi, tiba-tiba harus tidur sekamar dengan orang lain dengan karakter berbeda, berbagi kamar mandi, dan makan dengan menu yang mungkin tidak sesuai selera.
Menurut Mujib, akumulasi dari hal-hal kecil tersebut bisa memicu ledakan emosi atau depresi jika tidak ditangani dengan baik.
Mujib mendorong setiap petugas haji, terlepas dari layanan apapun, memiliki kemampuan dasar Pertolongan Pertama Psikologis. Petugas tidak harus menjadi psikolog, namun harus mampu menenangkan jamaah yang panik atau stres.
"Setidak-tidaknya ada sesuatu yang umum bisa dikuasai. Misalnya, bagaimana bisa menenangkan orang yang lagi stres atau depresi," ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa pendekatan penanganan stres tidak bisa dipukul rata. Jamaah yang berasal dari perkotaan mungkin memiliki respons stres yang berbeda dengan jamaah dari pedesaan.
Petugas dituntut peka membaca latar belakang sosiologis jamaah untuk memberikan respons yang tepat. "Jika masalah psikologis terlalu berat, petugas harus segera merujuk jamaah tersebut ke tenaga ahli atau tim kesehatan yang tersedia," ujarnya.




