Top
Begin typing your search above and press return to search.

Rupiah diprediksi tertekan seiring ketidakpastian di Timur Tengah

Rupiah diprediksi tertekan seiring ketidakpastian di Timur Tengah
X

Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan rupiah masih berada dalam tekanan akibat ketidakpastian potensi gencatan senjata di Timur Tengah.

“Ketegangan meningkat setelah Iran kembali memberlakukan blokade Selat Hormuz, di tengah berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon,” ucapnya dikutip dari ANTARA, Jumat.

Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi menguat 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp17.083 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.090 per dolar AS.

Menurut Josua Pardede, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan di Timur Tengah seiring gencatan senjata yang baru diumumkan AS-Iran terlihat masih rapuh menjelang perundingan damai yang dijadwalkan pada hari ini di Pakistan. Hal ini disebabkan Zionis Israel yang melakukan serangan besar-besar di Lebanon, hingga menyebabkan 250 orang gugur dan ribuan orang luka-luka.

Perkembangan ini dinilai memicu kekhawatiran baru terhadap kemajuan negosiasi AS–Iran, yang mendorong kenaikan harga minyak global dan memperkuat sentimen risk-off.

Sentimen lain berasal dari risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Maret 2026 menunjukkan sejumlah pejabat The Fed mulai membuka pendekatan “dua arah” dalam penentuan suku bunga kebijakan ke depan.

Penekanannya terhadap kenaikan suku bunga lanjutan masih mungkin diperlukan apabila inflasi tetap berada di atas target.

Mayoritas anggota FOMC menilai risiko kenaikan inflasi dan penurunan ketenagakerjaan berada pada level tinggi dengan banyak yang mencatat risiko tersebut meningkat di tengah perkembangan di Timur Tengah.

“Konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi yang lebih persisten, dengan peningkatan biaya input yang dapat menekan inflasi inti,” ungkap Josua.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan berkisar Rp17 ribu-Rp17.125 per dolar AS.

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire