Sikap Gibran ke JK dinilai tanda kedewasaan berpolitik

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) memberikan bantuan kepada warga di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Selasa (21/4/2026). Dalam kunjungan perdananya di Provinsi Papua Barat Daya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan bantuan belanja sembako senilai Rp500 ribu untuk 100 mama Papua. ANTARA FOTO/Olha Mulalinda/nym.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) memberikan bantuan kepada warga di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Selasa (21/4/2026). Dalam kunjungan perdananya di Provinsi Papua Barat Daya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan bantuan belanja sembako senilai Rp500 ribu untuk 100 mama Papua. ANTARA FOTO/Olha Mulalinda/nym.
Pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia sekaligus Direktur Eksekutif Nusakom Pratama Institute, Ari Junaedi, mengapresiasi sikap Gibran Rakabuming Raka yang menyebut Jusuf Kalla sebagai senior, mentor, sekaligus idolanya.
Menurut Ari, pernyataan tersebut menunjukkan kematangan Gibran dalam berkomunikasi secara politik. Ia juga menilai respons Gibran yang tetap santun dan tenang ketika menjawab pertanyaan publik mengenai dinamika politik nasional menjadi contoh sikap yang tidak memperkeruh suasana.
Ari menilai Gibran tidak terpancing oleh pertanyaan media yang berpotensi memicu respons emosional. Jika ditanggapi dengan emosi, situasi politik nasional justru bisa menjadi lebih tegang. Ia menyebut hal itu menunjukkan bahwa Gibran telah banyak belajar mengenai pola komunikasi politik yang tepat.
Lebih lanjut, Ari menilai sikap Gibran juga merupakan bagian dari upaya meredam meningkatnya tensi politik dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut terjadi di tengah tekanan yang dirasakan masyarakat akibat kenaikan harga sejumlah komoditas, seperti bahan bakar minyak non-subsidi, elpiji non-subsidi, serta harga plastik yang dipengaruhi dinamika geopolitik global.
Ia juga mengaitkan langkah komunikasi Gibran dengan konsep “spiral of silence” yang diperkenalkan oleh Elisabeth Noelle-Neumann. Dalam teori tersebut, seseorang berupaya memecah dominasi opini publik tertentu agar ruang pandangan lain dapat muncul.
Dalam sepekan terakhir, perhatian publik juga tertuju pada pernyataan Jusuf Kalla terkait Joko Widodo. JK menyatakan bahwa dirinya yang mengusulkan nama Jokowi kepada Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, untuk maju dalam Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta.
JK juga menyebut Jokowi akhirnya menjadi Presiden ke-7 RI berkat dukungannya. Sebelumnya, Jokowi menanggapi pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa dirinya hanyalah orang biasa.
Sementara itu, pernyataan Gibran yang disampaikan saat kunjungan kerja di Papua dinilai mampu menenangkan suasana. Saat memberikan keterangan usai meninjau rumah sakit di Sorong, ia menyebut JK sebagai sosok senior yang berpengalaman dan memiliki banyak kontribusi bagi bangsa, terutama dalam penyelesaian konflik di berbagai daerah.
Gibran juga menyampaikan apresiasinya atas berbagai masukan dan evaluasi dari tokoh yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia tersebut.
Ia menilai Jusuf Kalla sebagai teladan yang patut dihormati serta mengaku bersyukur atas arahan dan pandangan yang diberikan oleh tokoh senior tersebut. Bahkan, Gibran menyebut JK sebagai salah satu sosok yang ia idolakan.




