TNI bersama Tim SAR evakuasi korban ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung

Foto : Puspen TNI
Foto : Puspen TNI
Tim gabungan TNI dan SAR terus melakukan evakuasi korban pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Lokasi jatuh pesawat berada di medan ekstrem, dengan jurang sedalam sekitar 200 meter, yang menyulitkan akses tim evakuasi.
Operasi evakuasi melibatkan TNI AU, Korpasgat, Basarnas, serta unsur darat dari Kodau II, Lanud Sultan Hasanuddin, dan Yon Arhanud 23 Korpasgat. Seluruh tim bekerja di radius 200 meter dari lokasi titik jatuh (LKP), dengan rencana memperluas pencarian hingga satu kilometer untuk memastikan tidak ada korban yang terlewat.
“Tim SAR gabungan kurang lebih seribu personel diterjunkan, termasuk personel Brimob dan Kopasgat, serta tim Basarnas Special Group. Semua berfokus pada keselamatan korban dan keamanan personel di lapangan,” ujar Kabidpenum Puspen TNI, Kolonel Laut (P) Agung Saptoadi dalam keterangannya.
Sebelumnya Kepala Kantor SAR Makasar, Muhammad Arif Anwar dalam wawancara di Radio Elshinta menjelaskan, evakuasi dilakukan melalui jalur udara menggunakan helikopter H225M Caracal jika cuaca memungkinkan. Jika tidak memungkinkan, tim siap menggunakan jalur darat yang memerlukan perjalanan 5–6 jam untuk menurunkan korban ke lokasi identifikasi.
"Cuaca memang menjadi faktor alam yang menantang. Kami memiliki dua alternatif, udara atau darat, untuk memastikan evakuasi dapat dilakukan dengan aman," ungkap Arif.
Selain korban jiwa, tim juga mencari black box (kotak hitam) pesawat dan serpihan lainnya, namun fokus utama tetap pada evakuasi jenazah. Pesawat ATR 42-500 terpecah menjadi beberapa bagian: kepala di utara, jendela di lokasi dugaan tabrakan, dan ekor di sisi timur laut, jatuh ke dalam jurang sedalam 200 meter.
“Kami akan terus mendukung proses pencarian, evakuasi, dan penanganan lanjutan sesuai prosedur, serta memperkuat koordinasi dengan seluruh instansi terkait hingga operasi SAR selesai,” tegas Kolonel Agung.
Robby Hatibie




