Top
Begin typing your search above and press return to search.

Wamenkomdigi: Berpikir kritis jadi perisai anak hadapi deepfake dan AI

Wamenkomdigi: Berpikir kritis jadi perisai anak hadapi deepfake dan AI
X

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis (critical thinking) adalah pertahanan utama bagi anak-anak di era digital di Forum Saling Jaga Tunas Bangsa di Tangerang Selatan, Selasa (20/01/2026). Foto : Kemenkomdigi

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis (critical thinking) adalah pertahanan utama bagi anak-anak di era digital.

Di tengah banjir informasi dan maraknya konten hoaks yang dibuat oleh teknologi kecerdasan artifisial (AI), kemampuan memverifikasi informasi menjadi modal yang sangat berharga.

"Hal yang paling penting di dunia digital adalah critical thinking. Kemampuan memilah, menganalisis, dan memverifikasi informasi menjadi keterampilan yang paling berharga. Ini kunci membuat kita waras dan sehat di dunia digital, bukan hanya sebagai penerima pasif," ujar Nezar dalam Forum Saling Jaga Tunas Bangsa di Tangerang Selatan, Selasa (20/01/2026).

Menurutnya, orang tua harus membangun fondasi berpikir kritis sejak dini agar anak tidak mudah teperdaya oleh konten yang tampak meyakinkan namun faktanya salah.

Untuk melatih keterampilan tersebut, Wamen Nezar merujuk pada strategi riset dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang terdiri dari tiga tahap, yaitu Learn, Evaluate, dan Reflect.

Tahap Learn menekankan pentingnya anak memiliki basis pengetahuan kuat melalui buku dan diskusi dunia nyata agar cakrawala mereka tidak terbatas pada algoritma media sosial.

Tahap selanjutnya adalah Evaluate, yakni membangun skeptisisme sehat dengan mengajukan pertanyaan kritis terhadap setiap klaim yang dilihat.

Sementara tahap Reflect menjadi krusial untuk mengidentifikasi "realitas sintetis" yang diciptakan oleh AI, seperti teknologi deepfake.

"Realitas sintetis yang dibangun mesin ini tidak autentik. AI bisa membuat deepfake yang nyaris tidak bisa dibedakan, bahkan memanipulasi foto wajah menjadi konten pornografi atau alat untuk perundungan (bullying) di kalangan anak-anak. Ini bahaya yang sangat nyata," jelas Wamenkomdigi.

Wamen Nezar juga menyoroti fenomena "defisit pertanyaan" di kalangan generasi muda.

Ia menilai saat ini kemampuan mengajukan pertanyaan atau menggugat sebuah informasi jauh lebih penting daripada kemampuan memberikan jawaban.

"Kita lebih banyak menerima daripada melakukan gugatan terhadap apa yang disajikan. Karena itu, pertanyaan kritis harus terus dilatih agar anak-anak kita menjadi digital citizens yang tangguh," tambahnya.

Kementerian Komunikasi dan Digital terus berkomitmen menciptakan ekosistem digital yang aman melalui regulasi dan edukasi.

Upaya ini selaras dengan slogan Kemkomdigi, yakni Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga, guna memastikan ruang digital Indonesia tetap berdaulat dan ramah bagi tumbuh kembang anak.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire